Menjadi Petani sekaligus pengusaha muda dalam bidang kopi dengan beri nama brand Aki Away, begitulah sosok Yusuf Bimantara yang merupakan pria yang asal dari Gunungwangi, Argapura, Majalengka.
Pria yang akrab dipanggil Yusuf atau Bima ini sebenarnya mengawali karir sebagai seorang konsultan perencanaan pembangunan daerah di Semarang selama 5 tahun.
Wiraswasta muda kelahiran Cirebon ini sendiri awali profesi sebagai konsultan perencanaan pembangunan daerah pula lah, Yusuf dapatkan beasiswa untuk mengenyam pendidikan strata 1 jurusan hukum di Untag Semarang.
“Saya kerja jadi konsultan 1 tahun, lalu mungkin karena kinerja selama 1 tahun itu bagus saya dikuliahkan, dapat beasiswa S1 full di Untag Semarang,” kata Yusuf, Minggu (29/11).
Dari pekerjaan tersebutlah pria yang berusia 25 tahun ini tertarik pada dunia kopi, yang sekarang menjadi hobi sekaligus usahanya.
“Saya kan bekerja sering pergi ke luar kota dan sering bawa pulang kopi dari berbagai tempat itu, dan perlahan saya juga mulai cari tau apa aja varian dari kopi, pengelolaannya dan penyajiannya,” tutur Yusuf, pada FC.
Tepat pada saat itu tahun 2016 Yusuf benar-benar tertarik pada kopi dan belajar tentang seluk beluk kopi.
Dan memang Yusuf pada akhirnya menceburkan dirinya dalam dunia kopi baik usaha maupun budidayanya yaitu pada tahun 2018. Yang memang tak dapat dipungkiri, pada saat itu pun, dirinya masihlah bekerja sebagai konsultan.
Alasan Yusuf sendiri untuk memulai usaha dan budidaya kopi sendiri dikarenakan potensi besar yang dimiliki desanya untuk lahan budidaya kopi.
“Di Desa saya Gunungwangi tanaman kopi belum ada sistem budidayanya, para petani kopi masih ketergantungan dengan pohon kopi yang terdahulu dan itupun ada dilahan Taman Nasional Gunung Ciremai yang terikat dengan peraturan,” ujarnya.
Untuk mengatasi hal tersebut, sambung Yusuf, ia pun lakukan pendekatan dan memberikan bimbingan pada petani kopi agar dapat mandiri. Sehingga, tidak terus bergantung pada lahan Taman Nasional Gunung Ciremai.
Setelah berbagai macam pendekatan pria 5 bersaudara ini, kenalkan cara pembibitan agar pohon kopi bisa terus beregenerasi.
Walau memang masih tetap ada permasalahan pada lahan. Akan tetapi, dirinya tetap mewanti-wanti para petani untuk bisa menanam dilahan pribadi bagi yang memiliki lahan.
Sedangkan, untuk petani yang tidak memiliki lahan pribadi, Yusuf tawarkan lahan pribadi miliknya dan keluarga yang masih kosong untuk ditanami kopi dan para petani yang mengolahnya.
Setelah beberapa tahun jalani usaha sembari bekerja sebagai konsultan Yusuf pun akhirnya memilih untuk mengundurkan diri dari pekerjaanya saat itu, yaitu tepat awal tahun 2020 ini.
“Saya memilih mengundurkan diri karena, ingin fokus mengembangkan usaha untuk perkuat branding dan budidaya kopi di desa, walau memang saya ditawarkan untuk pendidikan S2” tuturnya.
Tetapi, jelasnya, karena benar-benar ingin memberdayakan para petani kopi dan lahan yang ada serta mengembangkan potensi yang dimiliki desanya ia memilih mengundurkan diri.
Sebenarnya, Yusuf pun miliki tujuan lain yaitu menaikan nilai jual kopi. Sebab, banyak petani kopi yang acap kali keluhkan masalah harga penjualan kopi pada pengepul.
“Harga murah itu memang, dikarenakan kualitas kopi yang masih buruk dan proses pengolahan biji kopi yang masih asal-asalan,” tandasnya.
Makanya, sambung Yusuf, Untuk menaikan harga jual ia pun memberi bimbingan dan pengarahan tadi kepada petani agar memakai proses pengolahan yang lebih terkonsep dari mulai petik sampai pada proses pengolahan biji.
Yang pada akhirnya, sampai sekarang hasilnya terus berkembang, baik kualitas dan kuantitas kopi maupun kemampuan dan wawasan para petani. Sementara itu, tak hanya kopi Yusuf pun memproduksi Teh dari kulit buah kopi yang kaya akan antioksidan, dan juga kalung, gelang, dan tasbih dari biji kopi.











































































































Discussion about this post