KUNINGAN, (FC).- Langit mendung yang menggantung di atas Lapangan Setda Kuningan seolah menjadi pengingat akan datangnya musim hujan dan ancaman cuaca ekstrem.
Di tengah suasana itu, Wakil Bupati Kuningan, Tuti Andriani, atau sering disapa Amih Tuti, memimpin Apel Kesiapsiagaan Penanggulangan Bencana yang digelar oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Selasa (4/11).
Apel tersebut diikuti oleh jajaran Forkopimda, Pj Sekda Wahyu Hidayah, Kapolres Kuningan AKBP Muhammad Ali Akbar, Kalak BPBD Indra Bayu Permana, Forum Camat, serta perwakilan dari TNI Kodim 0615, Polres, dan seluruh perangkat daerah se-Kabupaten Kuningan.
Dalam arahannya, Amih Tuti menegaskan bahwa kesiapsiagaan tidak boleh berhenti pada seremoni tahunan, melainkan harus tumbuh menjadi budaya kolektif dan kesadaran bersama seluruh elemen masyarakat.
“Kesiapsiagaan bukan hanya sebatas apel. Ia harus hidup dalam tindakan nyata, dalam koordinasi cepat, dan dalam kepekaan sosial setiap kali ada tanda-tanda bencana,” ujarnya dengan suara lantang.
Ia menjelaskan, kondisi geografis Kuningan yang terdiri dari dataran rendah, perbukitan, hingga pegunungan membuat potensi bencana sangat beragam.
“Wilayah selatan rawan longsor dan banjir bandang, wilayah tengah dan utara rentan terhadap angin kencang serta genangan air. Alhamdulillah, BPBD telah menyiapkan peralatan darurat dengan cukup baik, mulai dari perahu karet, tenda, dapur umum hingga perlengkapan evakuasi,” ungkap Tuti.
Usai apel, Wabup bersama jajaran Forkopimda meninjau perlengkapan penanggulangan bencana yang dimiliki BPBD, seperti mobil dapur umum, tenda lapangan, pelampung, lampu penerangan portabel, serta logistik evakuasi.
Sementara itu, Pj Sekretaris Daerah Kabupaten Kuningan, Wahyu Hidayah, menekankan pentingnya membangun sinergi lintas sektor dan memperkuat literasi kebencanaan masyarakat agar lebih siap menghadapi cuaca ekstrem.
Baca Juga: BPBD Kota Cirebon Uji Coba Peralatan Kesiapsiagaan Bencana
“Kesiapsiagaan bukan hanya tugas BPBD, tapi tanggung jawab kita semua baik pemerintah, aparat, dan masyarakat. Ketika bencana datang, waktu menjadi penentu. Respons cepat dan komunikasi efektif adalah kunci,” tegasnya.
Ia menambahkan, di bawah kepemimpinan Bupati Dian Rachmat Yanuar dan Wakil Bupati Tuti Andriani, Pemkab Kuningan terus memperkuat sistem peringatan dini, pelatihan relawan, serta membentuk komunitas tangguh bencana di tingkat desa.
“Pencegahan selalu lebih baik daripada penanganan. Karena itu, mari jaga lingkungan, jangan menebang pohon sembarangan, dan laporkan setiap potensi bahaya sejak dini,” imbuhnya.
Amih Tuti juga mengimbau masyarakat agar tetap waspada menghadapi puncak musim hujan pada akhir tahun ini. Ia meminta warga tidak beraktivitas di bantaran sungai atau lereng curam saat hujan deras, serta menyiapkan tas siaga keluarga berisi dokumen penting dan kebutuhan darurat.
“Gotong royong adalah kunci menghadapi bencana. Dengan kesiapan, kepedulian, dan solidaritas, Insyaallah Kuningan akan tetap tangguh,” tutupnya.
Apel ini tidak hanya menjadi simbol kesiapsiagaan, tetapi juga seruan moral bahwa keselamatan bukan tanggung jawab satu lembaga, melainkan hasil sinergi dan kepedulian semua pihak baik pemerintah, aparat, dan masyarakat. (Angga/FC)
















































































































Discussion about this post