KOTA CIREBON, (FC).- Berdasarkan Global TB Report tahun 2021, diestimasikan terdapat 824.000 kasus Tuberkulosis (TBC) baru setiap tahun di Indonesia.
Akan tetapi yang ditemukan dan dilaporkan baru mencapai 393.323 kasus (48 persen), sisanya belum dilaporkan atau belum ditemukan dan belum diobati yang berpotensi menjadi sumber penularan.
Tidak heran jika asus TBC masih tinggi di Indonesia dan menjadi penyebab kematian yang cukup tinggi yakni mencapai 93.000 setiap tahunnya atau sebesar 11 kematian per jam terjadi akibat TBC.
Masalah yang ditimbulkan akibat TBC berdampak tidak hanya pada kesehatan tapi juga pada tatanan sosial, ekonomi, dan budaya.
Sebanyak 40 persen pasien TBC mengalami beban biaya yang tinggi dalam pengobatanya dan dapat mengancam jiwa (katastrofik), dan semakin membesar menjadi dua kali lipat bebannya pada pasien TBC Resisten Obat (TBC RO).
Untuk menanggulangi permasalahan TBC tersebut perlu dilakukan pelibatan multi sektor baik di tingkat nasional, maupun daerah kabupaten/kota.
Menurut Kepala Dinas Kesehatan Kota Cirebon dr. Maria Siti Listiawati, di Kota Cirebon sendiri terdapat sebanyak 2.212 (79 persen) kasus TBC dari target 2.783. Kasus TBC pada anak sebanyak 546 kasus, pasien TBC diperiksa HIV mencapai 1.036 kasus.
“Sehubungan dengan hal tersebut TBC Komunitas Penabulu-STPI bekerjasama dengan Dinas Kesehatan Kota Cirebon melaksanakan kegiatan Pertemuan Eliminasi TBC Melalui Pertemuan Forum Multi Sektor di Tingkat Kota Cirebon,” katanya, Selasa (29/8).
Dari pertemuan tersebut masing-masing sektor menyatakan komitmennya dalam penanganan TBC di Kota Cirebon seperti Dinas Sosial akan melakukan memilah penderita TBC yang sudah tercantum dalam DTKS dimulai pada awal tahun 2024, memberikan nutrisi bagi penderita TBC lansia, dan lainnya.
“Dalam menekan angka kasus TBC di Kota Cirebon kami berkoordinasi dengan lintas sektoral, contohnya Dinas Sosial berkomitmen untuk melakukan sosialisasi penularan dan pencegahan TBC pada kelompok rentan,” imbuhnya.
Sedangkan dari Kemenag Kota Cirebon akan memfasilitasi pelaksanaan screening TBC bagi calon pengantin yang dimulai di bulan Oktober 2023 mendatang dan memfasilitasi screening TBC di Madrasah dan pondok pesantren.
“Kami sangat menghargai dukungan dan komitmen yang dilakukan oleh teman-teman lintas sektoral dalam mewujudkan zero kasus TBC di tahun 2030. Ini adalah sebuah langkah besar dan percepatan,” ujarnya. (Frans/Job/FC)
















































































































Discussion about this post