KOTA CIREBON, (FC).- Sejumlah ulama mengadakan seminar sejarah Cirebon di Gedung At-Taqwa Center, pada Selasa (25/8). Ulama asal Banten yang juga pimpinan Kerukunan Ulama Nusantara (KUN), Rohimudin Nawawi menyampaikan, pihaknya mendukung pelurusan sejarah Cirebon, tujuannya untuk mengembalikan simbol agama.
Diceritakannya, penjajah Belanda telah berhasil memisahkan antara agama dan politik di kesultanan di Indonesia. Termasuk Keraton Kasepuhan, sehingga keraton kehilangan marwah dan hanya sekedar menjadi penjaga warisan budaya saja.
Sebelum penjajahan Belanda, kesultanan itu antara agama dan politik tidak dipisahkan. Saat Belanda berkuasa, hal ini mulai dipisahkan. Ini ditandai dengan pengangkatan sultan oleh pemerintah Belanda dan dibawah perintahnya. Padahal dulu tidak demikian, sultan diangkat oleh ulama atau dewan syuro.
“Setelah kemerdekaan, keraton atau kesultanan saat ini hanya sebagai penjaga benda cagar budaya saja,” ujarnya seusai seminar.
Dalam seminar ini, hadir sembilan ulama dari berbagai wilayah ini, Rohimudin mendukung pelurusan sejarah Cirebon. Jika ulama tidak peduli, masyarakat tidak peduli, dampaknya keraton akan menjadi tak lebih dari sekedar penjaga budaya, tidak ada fungsinya terhadap agama.
“Apa salahnya pelurusan sejarah ini kita dukung semata untuk mengembalikan simbol agama,” ujarnya.










































































































Discussion about this post