Jurnalis lainnya mengeluhkan hal serupa. Batuk sesekali, namun tanpa pilek, seperti dialami Ani Nunung Aryani, jurnalis salah satu media cetak. Memasuki aula, kegugupan sedikit meningkat. Diawali pemeriksaan suhu tubuh, penyemprotan tubuh dengan cairan disinfektan, hingga mengganti masker.
Setelah diberi nomor urut, setiap jurnalis mengambil tempat masing-masing untuk mengantri pemeriksaan di ruangan tertutup. Kegugupan belum mereda. Namun begitu, seraya menanti, para jurnalis melaksanakan tugasnya masing-masing.
Pemeriksaan berlangsung singkat, dengan rerata setiap orang menghabiskan waktu kurang dari sepuluh menit. Hasilnya sendiri diketahui sekitar 15 menit pasca pemeriksaan. Dalam pemeriksaan, setiap jurnalis beroleh pertanyaan riwayat penyakit hingga riwayat perjalanan.
Tak ketinggalan pengambilan sampel darah. Belakangan diketahui, para jurnalis Cirebon dinyatakan negatif virus. Hasil itu pun melepaskan kegugupan yang dirasakan sebagian dari mereka.
Menurut Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kabupaten Cirebon, Nanan Abdul Manan menjelaskan, tujuan pemeriksaan bagi awak media tak lain yakni salah satu upaya awal untuk mencegah penyebaran virus Corona (Covid-19) di lingkungan pekerja media.
“Kami menilai pekerja media paling berisiko terkena virus Corona,” katanya.
Nanan berharap dengan dilakukannya rapid test itu, para jurnalis bisa bekerja dengan tenang dan tetap bisa menyampaikan informasi yang benar ke publik. “Kami ingin memastikan kesehatan pekerja media, agar tetap dapat menjalankan kerja jurnalistik dan tetap bisa menyampaikan informasi terkait Covid-19 kepada masyarakat dengan tenang,” paparnya. (Suhanan)














































































































Discussion about this post