KAB. CIREBON, (FC).- Kejadian yang membuat tercorengnya desa religi di wilayah timur Kabupaten Cirebon yang diduga dilakukan oleh oknum Tenaga Kerja Asing (TKA) dengan WNI di Desa Kalibuntu Kecamatan Pabedilan Kabupaten Cirebon, membuat tokoh masyarakat Cirebon R Hamzaiya angkat bicara.
Kepada FC, R Hamzaiya mengungkapkan, kejadian seks bebas di lingkungan desa yang dikenal religi ironi terjadi di tengah geliat pembangunan kawasan industri Cirebon Timur. Di balik deretan pabrik, lalu lintas alat berat, dan angka investasi yang terus naik, muncul kabar mencemaskan: seorang warga negara Tiongkok berinisial Mr J diduga terlibat dalam aktivitas pesta seks, dengan keterangan yang menyebut bahwa wanita dipesan melalui aplikasi.
Peristiwa ini seolah menyibak selubung realitas baru yang selama ini tak tersentuh oleh sorotan: praktik prostitusi digital yang mulai berakar, bahkan mungkin telah bertumbuh diam-diam dalam bayang-bayang pembangunan, kasus ini bukan hanya soal pelanggaran moral personal, tetapi potensi kerusakan sosial yang jauh lebih dalam.
“Ini bukan hanya kasus pesta seks. Ini adalah simbol dari kebocoran sistem. Kalau benar ada pemesanan wanita via aplikasi, maka yang sedang terjadi bukan kebetulan. Ini bentuk prostitusi digital—modern, licin, dan seringkali sulit dilacak,” ujarnya.
Hamzaiya menilai, keterlibatan pihak asing dalam praktik seperti ini menunjukkan bahwa Cirebon Timur sedang memasuki babak rawan dalam sejarah sosialnya: wilayah yang menjanjikan secara ekonomi, namun rentan secara moral.
“Pertanyaannya sekarang: siapa yang memfasilitasi aplikasi ini? Apakah ini baru satu-dua kasus, atau sudah ada jaringan? Dan mengapa bisa tumbuh di tengah kawasan industri yang seharusnya steril dari praktik-praktik semacam ini?” tegasnya.
Hamzaiyah juga menyoroti soal investasi Asing l, dirinya mengkritisi pola investasi asing yang tidak disaring secara kultural dan sosial. Menurutnya, pemerintah daerah dan pemangku kepentingan harus berani meninjau ulang seluruh pola masuknya investasi bukan hanya dari sisi modal dan izin, tetapi juga dari nilai, norma, dan dampaknya terhadap masyarakat lokal.
“Apakah kita hanya menyambut pabrik dan uang? Bagaimana dengan nilai, dengan adab, dengan sopan santun sosial? Kalau investasi datang membawa uang tapi juga membawa penyakit moral, lalu apa yang sedang kita bangun sebenarnya?” ucapnya lantang.
Ia mengingatkan bahwa industrialisasi tidak boleh melahirkan dekadensi. Kehadiran tenaga kerja asing, investor luar, dan arus globalisasi digital harus diimbangi dengan kontrol sosial dan hukum yang kuat, serta pengawasan terhadap pola hidup dan aktivitas mereka di lingkungan lokal.
Hamzaiya menyampaikan kekhawatirannya bahwa praktik pemesanan wanita melalui aplikasi jika tidak ditindak dan dicegah akan menjadi “normal baru” di tengah masyarakat. Ia menyebut bahwa sistem prostitusi digital bukan hanya merusak akhlak, tapi juga menyusupi nilai-nilai rumah tangga, meracuni anak muda, dan menciptakan kesenjangan sosial yang tak terlihat.
“Satu sisi kita bangga ada kawasan industri. Tapi sisi lain kita tutup mata terhadap aplikasi gelap yang memperdagangkan tubuh. Ini bom waktu sosial,” katanya.
Ia juga menyatakan, jika dibiarkan, prostitusi digital ini akan berkembang lebih cepat daripada industrialisasi itu sendiri. Ditambah lagi, masyarakat lokal yang tidak siap secara ekonomi bisa tergoda untuk ikut terlibat, langsung atau tidak langsung.
“Jika aplikasi itu bisa digunakan siapa saja, jika tidak ada pengawasan, dan jika pelakunya dilindungi karena punya duit, maka rakyat akan berpikir: ‘mengapa kita harus jujur, kalau yang menyimpang saja dilindungi?’ Ini racun jangka panjang,” ujar Hamzaiya penuh kekhawatiran.
Ditambahkan Hamzaiya, meski tak menyinggung secara langsung institusi manapun, Hamzaiya menyerukan agar semua pihak, mulai dari pemerintah daerah, tokoh agama, tokoh adat, hingga akademisi, tidak tinggal diam melihat ancaman moral seperti ini tumbuh diam-diam.
“Kita bukan sedang membangun kota, kita sedang membangun arah sejarah. Cirebon Timur bisa jadi contoh, atau bisa jadi peringatan. Jangan sampai kelak anak cucu menyesali bahwa leluhurnya hanya diam saat nilai-nilai dihancurkan oleh modal asing,” tegasnya.
Ia juga menegaskan bahwa pembangunan sejati tidak hanya terletak pada angka investasi dan luasnya kawasan industri, tetapi pada kekuatan sosial, nilai-nilai luhur, dan keberanian masyarakat menjaga marwah daerahnya.
“Jangan jadikan Cirebon Timur sebagai laboratorium budaya asing yang tak punya etika. Ini tanah leluhur. Ini bukan tempat untuk menjual martabat,” tutup Hamzaiya. (Nawawi)












































































































Discussion about this post