“Saat penguburan, diduga ada provokator yang mengatakan itu bukan Covid-19, tapi jantung. Memang penyakit penyertanya jantung. Tapi setelah menjalani tes swab hasilnya positif Covid-19,” jelas Enny, Senin (5/10).
Terkait apakah nanti akan ada tes swab kepada orang-orang yang membuka paksa peti jenazah, Enny masih enggan memastikan. Masalahnya, setelah kejadian tersebut pegawai Puskesmas Gunung Jati mendapat ancaman dari orang-orang yang diduga keluarga atau kerabat almarhum.
“Kami memang menyarankan isolasi mandiri bagi mereka yang hadir di pemakaman, apalagi yang membuka peti jenazah. Tapi karena ada ancaman, nanti kita konsolidasikan lagi dengan tim,” ucap Enny.
Enny juga mengaku, saat ini ada satu tenaga kesehatan (Nakes) yang meninggal dunia akibat positif Covid-19. Almarhum merupakan Nakes yang bertugas di Puskesmas Karangsari dengan penyakit penyerta adalah jantung.
Tercatat, sampai saat ini ada 49 Nakes dari Puskesmas yang terkonfirmasi. Dari total itu, sudah ada 42 Nakes yang dinyatakan sembuh, satu meninggal dan 6 orang masih isolasi mandiri.
Sebelumnya, terjadi penolakan terhadap tenaga kesehatan yang akan dikebumikan oleh Pemerintah Desa Karangsari, Kecamatan Weru, namun pemerintah desa tersebut menerimanya.
“Sekarang sudah diterima, memang awalnya ada penolakan terhadap tenaga kesehatan yang meninggal dunia. Mungkin mereka berfikir jenazah bisa menularkan, tetapi kan kalau dulu 4 jam harus sudah dikebumikan namun sekarang 1×24. 4jam pertama kuman atau virus masih aktif tapi setelah itu tidak beresiko lagi,” tambah Enny. (Ghofar)
















































































































Discussion about this post