KAB.CIREBON, (FC).- Kesenian Gamelan Renteng yang sempat terancam punah kini mulai bangkit di Kabupaten Cirebon. Regenerasi pemain yang melibatkan anak-anak hingga kaum muda menjadi harapan baru bagi kelestarian salah satu warisan budaya khas Cirebon tersebut.
Salah satu upaya pelestarian dilakukan Sanggar Seni Gamelan Renteng Ki Muntili di Desa Kedungsana, Kecamatan Plumbon.
Sejak 2012, sanggar ini secara konsisten melakukan revitalisasi dengan mengajak berbagai kalangan untuk mempelajari kesenian tradisional yang memiliki nilai sejarah tinggi itu.
Sekretaris Sanggar Seni Gamelan Renteng Ki Muntili, Ade Maulana, mengatakan regenerasi menjadi langkah penting agar Gamelan Renteng tidak hilang ditelan perkembangan zaman.
Selain melibatkan para nayaga senior sebagai pewaris tradisi, sanggar juga membuka ruang bagi generasi muda untuk belajar memainkan alat musik tersebut.
Menurutnya, ketertarikan anak-anak dan remaja tidak hanya muncul karena keunikan bunyi gamelan, tetapi juga karena nilai filosofi, sejarah, serta kelangkaannya sebagai warisan budaya Cirebon.
“Generasi muda tertarik mempelajari Gamelan Renteng karena filosofi, sejarah, keunikan, dan kelangkaannya. Jadi mereka tidak hanya belajar memainkan alat musik, tetapi juga memahami sejarah dan nilai budaya yang terkandung di dalamnya,” ujar Ade Maulana, Senin (29/6).
Meski demikian, proses pelestarian tidak lepas dari berbagai tantangan. Minimnya literatur, terbatasnya dokumentasi lagu, serta tingkat kesulitan permainan menjadi kendala yang harus dihadapi para pelatih maupun peserta didik.
Ade menjelaskan, struktur permainan Gamelan Renteng lebih kompleks dibandingkan gamelan pada umumnya. Karena itu, seorang pemula membutuhkan waktu cukup lama untuk menguasai satu lagu.
“Untuk pemain pemula, menguasai satu lagu bisa memerlukan waktu antara satu hingga tiga bulan, tergantung tingkat kesulitannya,” katanya.
Nama Gamelan Renteng sendiri berasal dari susunan bonang yang berjejer atau berenteng. Karakteristik tersebut menjadi ciri khas sekaligus identitas alat musik tradisional yang kini keberadaannya semakin langka.
Melalui proses regenerasi yang terus dilakukan, Sanggar Seni Gamelan Renteng Ki Muntili berharap kesenian tersebut tidak sekadar menjadi benda peninggalan sejarah, tetapi tetap hidup dan dimainkan oleh generasi mendatang.
Di sisi lain, Pemerintah Kabupaten Cirebon juga terus mendorong upaya pelestarian Gamelan Renteng melalui berbagai program. Selain revitalisasi dan sosialisasi, pemerintah akan memperkuat regenerasi pelaku seni melalui dunia pendidikan.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Cirebon, Fajar Sutrisno, mengatakan Gamelan Renteng merupakan salah satu kesenian tradisional yang keberadaannya hampir punah akibat minimnya regenerasi pemain.
“Pemerintah terus berupaya mengenalkan, menampilkan, dan mengkaji Gamelan Renteng agar tetap lestari dan tidak hilang ditelan zaman,” ujarnya.
Fajar menyebutkan, saat ini terdapat lebih dari 20 kelompok Gamelan Renteng yang masih aktif di Kabupaten Cirebon. Kelompok tersebut tersebar di sejumlah desa, di antaranya Kedungsana, Gamel, Buyut, dan Suranenggala.
Sebagai bagian dari strategi pelestarian, Disbudpar Kabupaten Cirebon akan meluncurkan program Seniman Masuk Sekolah pada 2026.
Melalui program tersebut, para seniman akan memberikan pembelajaran seni budaya secara langsung kepada siswa melalui kegiatan yang menyerupai ekstrakurikuler.
“Harapannya, semakin banyak generasi muda yang mengenal, mencintai, dan ikut melestarikan kesenian tradisional, khususnya Gamelan Renteng,” pungkasnya. (Ghofar)









































































































Discussion about this post