INDRAMAYU, (FC).- Pemerintah tampaknya mulai ancang-ancang untuk menjaga ketahanan energi nasional.
Pemerintah pun Bakal Bangun Penyimpanan Cadangan Energi hingga 90 Hari sebagai antisipasi dampak konflik di Timur Tengah.
Direktur Jenderal (Dirjen) Minyak dan Gas Bumi (Migas) Kementerian ESDM RI, Laode Sulaeman, mengatakan, saat ini pemerintah tengah memfokuskan alokasi BBM untuk memenuhi kebutuhan selama Ramadan hingga Lebaran.
Namun, menurut dia, setelah periode tersebut pemerintah langsung fokus mengalihkan ketahanan energi nasional, karena diprediksi dampak ketegangan geopolitik global baru terasa mulai bulan depan.
“langkah mitigasi sangat diperlukan, karena mengingat potensi dampak ketegangan geopolitik global akan mulai terasa signifikan pada April 2026,” kata Laode Sulaeman saat ditemui di Kilang RU VI Balongan, Kecamatan Balongan, Kabupaten Indramayu, Kamis (12/3).
Ia mengatakan, pemerintah pun tidak hanya menyiapkan strategi jangka pendek untuk menjaga stabilitas pasokan energi nasional, sehingga turut merancang strategi jangka panjangnya.
Pihaknya mengakui, salah satu rancangan strategis jangka panjang tersebut, di antaranya, pembangunan infrastruktur penyimpanan atau storage energi yang masif di wilayah Sumatera.
“Kami menargetkan Indonesia memiliki cadangan energi yang mampu bertahan hingga 90 hari, sehingga meningkat drastis dari kemampuan sekarang yang hanya kira-kira 23 hari,” ujar Laode Sulaeman.
Ia menyampaikan, pembangunan fasilitas storage strategis itu bakal melibatkan berbagai pihak, dan tidak terbatas hanya Pertamina, bahkan termasuk para pelaku usaha swasta.
Langkah tersebut diambil sebagai bentuk kemandirian energi nasional, sehingga Indonesia tidak rentan lagi terhadap gangguan distribusi minyak mentah di jalur-jalur pelayaran internasional.
Selain itu, ia mengakui adanya tantangan logistik global yang menyebabkan beberapa kapal tanker tertahan, termasuk kapal yang mengangkut kebutuhan energi nasional di Selat Hormuz.
Sulaeman memastikan, pemerintah tengah mengupayakan jalur diplomatik yang intensif untuk menyelesaikan kapal-kapal yang hingga kini tertahan di zona konflik tersebut.
Bahkan, sebagai strategi diversifikasi pemerintah pun mulai memperkuat kerja sama pengadaan minyak mentah di luar Timur Tengah termasuk menjalin komunikasi dengan badan usaha asal Amerika Serikat.
“Kami berharap, visi besar ini dapat menciptakan ekosistem energi yang stabil dan tidak mudah goyah oleh fluktuasi kondisi politik maupun ekonomi global,” pungkasnya. (Agus Sugianto)












































































































Discussion about this post