KAB.CIREBON, (FC).- Sebanyak 95 hektare lahan pertanian di Desa Kalisapu, Kecamatan Gunung Jati, Kabupaten Cirebon, terancam mengalami penurunan produksi akibat kekeringan.
Kondisi tersebut terjadi lantaran saluran irigasi yang menghubungkan wilayah Jatisawit-Kalisapu tidak lagi berfungsi optimal.
Memasuki musim kemarau, dampak kerusakan jaringan pengairan semakin terasa.
Sejumlah areal persawahan yang sebelumnya menjadi sumber penghidupan petani kini mulai mengering, bahkan sebagian tanaman padi mengalami gangguan pertumbuhan akibat kekurangan pasokan air.
Pemerintah Desa Kalisapu mendesak Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (PUTR) Kabupaten Cirebon segera melakukan normalisasi dan perbaikan jaringan irigasi agar distribusi air kembali berjalan.
Kuwu Desa Kalisapu, Suhana, mengatakan kondisi kekeringan tidak hanya disebabkan faktor musim kemarau, tetapi juga karena saluran irigasi yang selama bertahun-tahun tidak mampu mengalirkan air hingga ke areal persawahan.
“Yang terdampak kekeringan mencapai sekitar 95 hektare. Kami berharap Dinas Pengairan segera memperbaiki saluran dari Jatisawit ke Kalisapu,” ujar Suhana, Kamis (9/7).
Menurutnya, selama ini petani di Desa Kalisapu masih bergantung pada curah hujan karena lahan pertanian yang ada belum mendapatkan pasokan air irigasi secara maksimal.
Akibatnya, dalam satu tahun petani hanya mampu melakukan satu kali musim tanam.
“Kalau irigasi kembali berfungsi, harapan masyarakat bisa meningkat menjadi dua kali panen dalam setahun,” katanya.
Pantauan di lapangan, kondisi lahan persawahan di Desa Kalisapu terlihat kering. Permukaan tanah tampak retak, sementara sejumlah tanaman padi berubah warna menjadi kekuningan akibat minimnya pasokan air.
Suhana menjelaskan, jaringan irigasi sebenarnya masih tersedia, namun aliran air dari wilayah Jatisawit tidak lagi mencapai Kalisapu.
Padahal, pada era 1970-an hingga 1980-an, pasokan air masih cukup melimpah.
“Dulu air masih mengalir sampai sini. Mulai sekitar tahun 2000-an aliran semakin berkurang hingga akhirnya tidak sampai ke wilayah Kalisapu,” ungkapnya.
Ia berharap pemerintah daerah segera turun tangan melakukan penanganan, baik melalui normalisasi saluran maupun perbaikan infrastruktur irigasi.
Menurutnya, keberadaan jaringan pengairan yang baik sangat penting untuk menjaga produktivitas pertanian sekaligus mendukung ketahanan pangan daerah.
“Petani sangat membutuhkan kepastian air. Jangan sampai lahan yang seharusnya produktif justru tidak bisa dimanfaatkan karena persoalan irigasi,” pungkasnya. (Johan)








































































































Discussion about this post