KOTA CIREBON, (FC). – Sudah hampir dua tahun pandemi Covid-19 berjalan, atau dalam kalender akademik sudah berlangsung selama empat semester.
Sebagian besar kampus juga menerapkan pembelajaran secara daring atau online. Hal itu menyebabkan kejenuhan di kalangan mahasiswa.
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) sebenarnya memperbolehkan pembelajaran tatap muka, namun dengan prosedur dan persyaratan yang ketat.
Beberapa jurusan di setiap universitas juga ada yang membutuhkan kegiatan praktek langsung, namun lebih banyak yang melakukan kelas daring.
Kelas daring menjadi opsi yang terbaik dikala pandemi ini dengan tujuan utama memperlambat penyebaran virus corona.
Pernyataan tersebut diungkapkan langsung oleh Muhammad Ardi, seorang mahasiswa asal Kota Cirebon di Universitas Negeri Jakarta (UNJ).
“Pembelajaran daring kan kebijakan pemerintah, ya sudah seharusnya masyarakat mendukung kebijakan tersebut. Meski banyak kekurangan, tapi tujuannya untuk melindungi kita juga kan,” ungkap Ardi ketika dihubungi oleh FC, Senin (26/7).
Mahasiswa yang kini sedang menekuni Pendidikan Sosiologi itu mengaku, dirinya merasa penat berada di depan laptop seharian.
Selain ada kelas, banyak kegiatan dan tugas yang harus ia kerjakan. Terlebih lagi, lingkungan rumah yang kurang kondusif membuatnya tidak fokus selama kelas.
Perlu diketahui, Ardi tinggal dengan empat adiknya yang masih kecil. Suasana rumah yang selalu ramai mengiringi keseharian Ardi, namun dirinya tidak ambil pusing. Tugas dan program kerja organisasi tetap ia kerjakan.
“Pastinya kangen sama kegiatan pas kuliah langsung. Bertukar pikiran sama teman-teman organisasi, mengerjakan tugas bareng, suasana kampus, sampai ngerasain macetnya ibukota. Pas serba daring semua, diskusi jadi tidak efektif,” jelasnya.
Tidak berbeda jauh dari Ardi, Vany Luthfiah juga rindu dengan suasana kampus dan seluk beluknya.
Mahasiswi Universitas Gunung Jati (UGJ) itu menjelaskan ada kelebihan dan kekurangannya dari kelas daring.
Menurutnya, kelebihannya ia bisa mengasah kemampuan yang lain. Dengan munculnya banyak kelas daring, webinar, dan workshop, ia merasa mendapatkan pengetahuan yang baru di luar jurusannya.
Pembelajaran daring di kampusnya juga fleksibel, sehingga sangat mendukung untuk mempelajari hal baru. Di sisi lain, kelas secara daring membuatnya kesulitan untuk belajar.
Biasanya ia sering berdiskusi secara langsung dengan teman membahas soal. Namun dengan keterbatasan yang ada saat ini cukup sulit melaksanakannya.
Sistem daring juga sering terjadi miskomunikasi dan keterlambatan informasi, sehingga ia sering telat mendaftar program mahasiswa.
“Dengan keadaan seperti ini, yang terbaik memang kelas daring, tapi kurang efektif juga kalau cuma mengandalkan presentasi,” pungkas Vany.
Baik Ardi dan Vany sama-sama berharap supaya pandemi cepat berlalu. Keduanya merasa dua tahun kuliah tersita oleh Covid-19.
Dengan demikian mereka ingin untuk melaksanakan kegiatan kuliah secara langsung, setidaknya ketika keadaan sudah normal. (Melly/Job/FC)


















































































































Discussion about this post