KAB. CIREBON, (FC).- Pasar Senen, Desa Lemahabang, Kecamatan Lemahabang, Kabupaten Cirebon yang seharusnya dilakukan renovasi 8 tahun lalu, hingga saat ini tak kunjung dilakukan renovasi.
Kondisi diperparah dengan adaya pandemi Covid-19 dan menjamurnya kios, sehingga pasar menjadi sepi, proses revitalisasi Pasar Senen Lemahabang hanya berharap adanya dari bantuan program Kementerian Perdagangan RI agar tidak membebani para pedagang.
Kuwu Desa Lemahabang, Rudiyana kepada FC mengungkapkan, Pasar Senen yang ada di Desa Lemahabang selesai kontrak bangunan adalah pada tahun 2013, dan di tahun 2017 ada rencana dilakukan revitalisasi, akan tetapi saat itu adanya tuntutan para pedagang untuk penundaan hingga akhirnya masuk masa pandemi Covid-19 yang mengakibatkan tertunda kembali.
Memasuki tahun 2022, pedagang justru merasakan dampak dari Pendemi Covid-19, karena penghasilan pedagang menurun drastis yang memungkinkan akan kesulitan bila harus melakukan sewa kios baru bila Pasar Senen Desa Lemahabang direvitalisasi.
“Untuk sewa tambahan tahunan saja banyak pedagang yang belum mampu setor ke pemerintah desa, apalagi jika pasar harus direvitalisasi dengan menggunakan pihak ketiga,” jelasnya, Rabu (26/7).
Lanjut menurut Kuwu Rudi sapaan akrabnya, kondisi Pasar Senen Desa Lemahabang semakin tahun semakin kacau, seiring dengan menjamurnya kios-kios besar yang menjual barang dagangan seperti yang dijual di Pasar Senen Desa Lemahabang, seperti Toko Karomah yang hampir sebagian besar masyarakat belanja kebutuhan pangan lebih memilih berbelanja ke toko Karomah, dengan alasan harga bersaing dan tempat yang strategis, akibatnya saat ini pedagang Pasar Senen Desa Lemahabang satu persatu mulai meninggalkan kios lantaran pengunjung pasar sepi.
Menurutnya, lebih dari 30 persen pedagang terutama pedagang pakaian, pedagang perabot, dan beberapa pedagang lainnya sudah tidak berjualan lagi di Pasar Senen Desa Lemahabang dan tersisa beberapa pedagang kebutuhan pangan saja yang masih bertahan di Pasar Senen Desa Lemahabang.
“Para pedagang sangat miris, karena omset mereka per hari di bawah standar, bahkan ada yang hanya mendapat sekitar Rp20 – 50 ribu dalam sehari,” ungkapnya.
Atas dasar kondisi tersebut, menurut Kuwu Rudi, pihaknya melakukan terobosan solusi revitalisasi pasar dengan mengajukan proposal program revitalisasi pasar ke Kemendag RI, awalnya proposal tersebut sudah disetujui dan rencananya program tersebut akan direalisasikan di tahun 2023 ini, akan tetapi dengan alasan karena ada lokasi pasar di daerah lainnya yang lebih urgent untuk dilakukan revitalisasi, maka program revitalisasi yang seharusnya untuk Pasar Senen Desa Lemahabang di tahun 2023 ini dialihkan.
Menurut informasi dari anggota DPR RI H Herman Khaeron revitalisasi pasar Lemahabang baru akan direalisasi di tahun anggaran 2024, diharapkan setelah dilakukan revitalisasi perekonomian di pasar Senen Desa Lemahabang akan kembali bergairah.
“Kami selaku pemerintah desa hanya berupaya bagaimana meringankan para pedagang, bila program dari Kemendag bisa terealisasi, maka pasar bisa direvitalisasi dan para pedagang tidak dibebani biaya sewa,” harapnya. (Nawawi)














































































































Discussion about this post