Masih kata Nana, sebagian besar wisatawan yang datang ketiga lokasi wisata ini di dominasi oleh wisatawan luar kota. Terlebih lagi pada saat malam satu kliwon yang dijadikan sebagai tempat sejarah.
“Wisatawan yang datang kesini sih kebanyakannya dari luar Cirebon,” ucap Nana.
Meskipun demikian, dirinya mengatakan kendala yang dihadapi saat ini, Pemerintah Desa tidak bisa merasakan pendapatan bagi Desanya dari objek wisata tersebut.
Pasalnya, lokasi tersebut merupakan tanah milik Keraton Kasepuhan, hingga menyebabkan pembangunan Desa dikatakan lambat, meskipun Desanya memiliki tiga lokasi wisata yang banyak dikunjungi oleh wisatawan untuk berziarah.
“Pemdes tidak dapat apa-apa dari objek wisata itu, jadi boro-boro buat Pembangunan Desa. Apalagi akses jalan kesini kan kecil cuma cukup masuk mobil kecil saja,” tutur Nana.
Terlebih lagi warga belum bisa memanfaatkan lokasi wisata tersebut untuk mencari mata pencarian karena tidak adanya lahan parkir.
“Kami berharap kepada Pemerintah agar memperhatikan Desa kami untuk dilakukan penataan situs-situs yang ada di Desa Kerandon karena sejauh ini belum ada perhatian dari pemda,” ucap Nana. (Muslimin)















































































































Discussion about this post