KAB. CIREBON, (FC).- Di awal tahun 2022, kasus demam berdarah dengue (DBD) di Kabupaten Cirebon terjadi peningkatan yang sangat drastis. Hal tersebut dibenarkan Kepala Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular (P2PM) pada Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kabupaten Cirebon, dr Lukman Denianto.
Kepada wartawan, dr Lukman Denianto menjelaskan, pihaknya mencatat hingga tanggal 23 Januari 2022 terdapat 166 kasus DBD dengan satu kematian. “Ini mungkin akibat dari pancaroba, belum genap satu bulan, sudah terdapat 166 kasus dan 1 kematian,” jelas Lukman di ruang kerjanya, Senin (24/1).
Lebih lanjut Lukman menjelaskan, jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, di awal tahun 2022 ini adalah kasus yang paling tertinggi. “Kalau tahun 2021 dari Januari sampai Desember itu ada 820 kasus dengan 10 kasus kematian. Kalau dilihat dari bulannya, yakni Desember ke Januari dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya ini memang tinggi, kalau tahun lalu dengan bulan yang sama pada Desember tahun 2020 itu terdapat 25 kasus, sedangkan Desember 2021 ada 186 kasus,” kata Lukman.
Masih dikatakan Lukman, kecamatan yang paling dominan penyebaran kasus DBD paling tinggi ada di lima kecamatan. Diantaranya adalah kecamatan Plumbon, Plered, Weru, Palimanan dan Pabedilan. “Tahun sebelumnya (2021,-red) yang paling banyak adalah kecamatan Astanajapura, Plumbon, Pangenan, Palimanan dan Babakan,” tambahnya.
Dengan meningkatnya jumlah kasus DBD di Kabupaten Cirebon, Lukman mengimbau kepada masyarakat Kabupaten Cirebon agar menerapkan 3M Plus dan pemberantasan sarang nyamuk. “Kalau fooging hanya membunuh nyamuk yang dewasa saja, tapi jentik dan telornya tetap masih hidup dan dapat berkembang biak dan akan menjadi besar. Pemberantasan sarang nyamuk dengan bubuk abate adalah untuk memutuskan perkembangbiakan nyamuk DBD,” ungkapnya.
Di akhir Lukman menambahkan, selain mengimbau untuk menerapkan 3M Plus dan pemberantasan sarang nyamuk, yang perlu diwaspadai adalah anak-anak usia di bawah 14 tahun. “Karena yang terdampak DBD dominan adalah anak usia 14 tahun ke bawah. Sekitar 70 persen anak di usia itu yang terkena kasus DBD,” pungkasnya. (Ghofar)
















































































































Discussion about this post