Oleh karena itu, Lili sudah tidak membuak atau mengizinkan lagi hingga saat ini. Untuk permintaan kayu pohon Nagasari.
Sebab, baginya sebagai juru pelihara memiliki tugas untuk memelihara segala macam bentuk yang ada dalam situs tersebut.
“Kita tidak menerima permintaan untuk kayunya karena, sebagai juru pelihara. Menjaga keseimbangan lingkungan perlu dilakukan. Apalagi, pohon nagasari sulit di tanam dan sudah langka,” ungkapnya.
Disisi lain, Juru Situs Lili mengungkapkan, alasan orang kerap membutuhkan kayunya dikarenakan masyarakat menganggap pohon ngasari merupakan pohon bertuah.
Semuanya bermula dari kisah atau asal usul singkat yang berkembang di keluarga dan masyarakat sekitar pada zaman dulu.
Pohon Nagasari sendiri berawal pada masa peperangan dengan seekor naga (bangsa halus) yang melawan sunan Gunung Djati yang akhirnya kalah.
Setelah kalah, naga ini menginginkan menjadi sebagai abdi atau pengikut dari Sunan Gunung Djati. Namun, dikarenakan wujudnya yang begitu besar, Sunan Gunung Djati menolak.
Karena, dikhawatirkan para pengikut sunan yang lain akan merasa ketakutan. Hingga, akhirnya dijadikanlah naga tersebut menjadi sebuah batang kayu yang kemudian ditancapkan ke tanah dan menjadi sebuah pohon.
Dimulai dari kisah itulah masyarakat mempercayai manfaat dan khasiat setiap bagian pohon Nagasari terutama bagian batang dan bijinya. (Sarrah/Job/ FC)















































































































Discussion about this post