KUNINGAN, (FC).- Mahasiswa Program Studi Teknik Elektro tingkat 2 Fakultas Teknik Universitas Swadaya Gunung Jati (UGJ) menjalani perkuliahan praktik dengan proyek yang menantang sekaligus menyenangkan yakni merancang dan menguji robot tali.
Proyek ini lahir dari aspirasi mahasiswa untuk mendapatkan pengalaman langsung di lapangan, menjadikan pembelajaran lebih hidup dan tidak terbatas pada teori di dalam kelas, pada Kamis 10 Juli 2025 lalu.
Robot tali yang dirancang oleh setiap tim mahasiswa ditugaskan untuk berjalan di atas kawat atau tali sejauh 5 meter, bergerak dari titik awal ke titik akhir, kemudian kembali ke titik semula dan berhenti dengan presisi.
Tantangan ini menguji keterampilan dalam bidang mekanik, sensor, kendali motor, dan pemrograman mikrokontroler. Mahasiswa harus merancang struktur robot agar cukup ringan untuk seimbang di tali, namun cukup kuat untuk membawa komponen elektronik dan mekanik yang dibutuhkan.
Pada akhir sesi praktik, setiap tim mempresentasikan hasil karyanya dan diuji dengan mengukur waktu tempuh robot secara individu.
“Uji performa ini menjadi sesi yang paling dinanti karena memperlihatkan hasil nyata dari proses panjang selama beberapa minggu,” kata dosen pegampu dalam artikel yang diterima redaksi Fajar Cirebon, Rabu (20/8).
Tak hanya itu, sesi kedua diisi dengan balapan robot antar tim di atas lintasan tali yang sama. Sorak sorai, semangat persaingan sehat, dan kegembiraan mewarnai suasana balapan yang menjadi penutup kegiatan praktik.
“ Selain aspek teknis, proyek ini juga mensimulasikan skenario dunia nyata, salah satunya adalah penggunaan robot tali dalam kondisi bencana,” jelasnya.
Dalam situasi seperti banjir atau gempa di mana jalur darat terputus dan medan berbahaya bagi manusia, robot tali dapat digunakan untuk mengirimkan logistik ringan seperti obat-obatan, makanan, atau alat komunikasi ke titik yang sulit dijangkau.
Mahasiswa juga didorong untuk berpikir aplikatif dan solutif, melihat teknologi bukan hanya sebagai karya teknik, tetapi juga alat bantu kemanusiaan.
Penilaian dalam proyek ini tidak hanya didasarkan pada kecepatan atau keberhasilan robot menyelesaikan misi, tetapi juga mempertimbangkan proses desain, dokumentasi, kerja sama tim, dan kemampuan menyelesaikan masalah secara mandiri.
Dosen pengampu berharap mahasiswa terbiasa berpikir kritis, cepat mengambil keputusan, dan belajar dari kesalahan secara langsung — keterampilan yang sangat dibutuhkan di dunia kerja.
Menurut para mahasiswa, kegiatan ini memberi pengalaman yang berbeda dan menyenangkan. Diharapkan model pembelajaran seperti ini dapat terus dikembangkan agar menghasilkan lulusan yang kompeten, adaptif, dan siap menghadapi tantangan dunia industri. (Rls/FC)










































































































Discussion about this post