JAKARTA, (FC).- Badan Pusat Statistik (BPS) bekerjasama dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melakukan Survey Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) tahun 2024.
SNLIK ini merupakan kegiatan kerjasama OJK dan BPS yang baru pertama kali dilaksanakan tahun ini.
Tujuan SNLIK adalah untuk mengetahui secara konkret bagaimana tingkat literasi dan inklusi keuangan di Indonesia.
Selain itu, survey ini merupakan bagian dari evaluasi terhadap efektifitas program literasi dan inklusi keuangan di Indonesia.
Hasil SNLIK akan menjadi penting,karena akan menjadi bahan perencanaan program kegiatan literasi dan inklusi pada tahun-tahun berikutnya.
Dalam Konferensi Pers Hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) Tahun 2024, yang disiarkan live melalui chanel youtube OJK pada 2 Agustus 2024 lalu, Plt Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti menjelaskan perbedaan antara literasi keuangan dan inklusi keuangan.
Dijelaskan, literasi keuangan merupakan cerminan dari pengetahuan, ketrampilan dan keyakinan, yang kemudian akan mempengaruhi sikap dan prilaku untuk meningkatkan kualitas pengambilan keputusan dan pengelolaan keuangan dalam rangka mencapai kesejahteraan masyarakat, baik di tingkat keluarga maupun individu.
“Sedangkan inklusi keuangan kita definisikan sebagai ketersediaan akses pada berbagai lembaga, produk dan layanan jasa keuangan sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan masyarakat dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” jelas Amalia
SNLIK tahun 2024 dirancang untuk menyampaikan atau mencerminkan estimasi tingkat literasi dan inklusi keuangan pada level nasional berdasarkan kategori perkotaan dan perdesaan.
“Hasil SNLIK ini nantinya bisa didisagredasi berdasarkan beberapa karakteristik sesuai dengan desain dari kuisioner yang telah kita siapkan bersama dengan OJK. Kita bisa bagi berdasarkan karakteristik wilayah perkotaan dan perdesaan,” paparnya.
Juga bisa memilah berdasarkan gender atau laki-laki dan persempuanm berdasarkan umur, juga bisa memilah berdasarkan tingkat pendidikan tertinggi yang ditamatkan, dan berdasarkan pekerjaan atau kegiatan sehari-hari.
Berdasarkan hasil survey tahun 2024 diketahui bahwa indkes literasi keuangan adalah 65,43 persen, dan indkes inklusi keuangan adalah 75,02 persen.
“Jadi 65,43 persen dari populasi Indonesia memenuhi kriteria well literate, dan 75,02 persen dari masyarakat Indonesia menggunakan atau memiliki akses terhadap produk dan jasa layanan keuangan,” ungkap Amalia.
Untuk metodelogi sampling dan sebaran sample SNLIK tahun 2024, survey ini dilakukan di 34 propinsi mencakup 120 kabupaten/kota, termasuk 8 wilayah kantor regional OJK di wilayah tersebut, dan jumlah blok sensus per kabupaten/kota adalah sebanyak 9 blok sensus.
Jumlah rumah tangga sample di masing-masing blok sensus adalah 10 rumah tangga. Oleh sebab itu, responden sebanyak 10.800 respoinden, dimana target respondennya adalah berbasis kepada individu terpilih dengan karakteristik umur berkisar antara 15 sampai dengan 79 tahun. (Andriyana)











































































































Discussion about this post