KAB.CIREBON, (FC).- Selama Lebaran 2026, tingkat hunian kamar (okupansi) hotel di Kabupaten Cirebon turun signifikan dibandingkan tahun sebelumnya.
Jika pada Lebaran 2025 mampu menembus 90 hingga 100 persen, tahun ini okupansi hanya berada di kisaran 70–85 persen.
Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kabupaten Cirebon, Ida Khartika, mengatakan penurunan terjadi hampir di seluruh segmen hotel, baik berbintang maupun non-bintang. Okupansi penuh hanya terjadi pada hari tertentu dan tidak merata sepanjang masa libur Lebaran.
“Puncak 100 persen hanya terjadi pada hari tertentu saja, selebihnya berada di kisaran 70 sampai 85 persen,” kata Ida, Rabu (8/4).
Penurunan juga terjadi selama Ramadan. Tingkat okupansi hotel pada periode tersebut hanya berkisar 12–20 persen, mencerminkan lemahnya permintaan kamar dari wisatawan maupun kegiatan korporasi.
Ida menjelaskan, salah satu faktor utama penurunan adalah perubahan perilaku masyarakat yang kini lebih berhati-hati dalam membelanjakan uang, termasuk untuk kebutuhan liburan.
“Masyarakat cenderung menghemat dan tidak banyak mengalokasikan anggaran untuk menginap di hotel,” ujarnya.
Selain itu, pola perjalanan wisata juga berubah. Wisatawan kini lebih banyak memilih perjalanan singkat tanpa menginap atau one day trip. Faktor jarak menjadi salah satu penyebab, mengingat Cirebon relatif dekat dengan Jakarta dan kota sekitarnya.
“Banyak wisatawan datang lalu kembali di hari yang sama karena jaraknya hanya sekitar dua sampai dua setengah jam,” katanya.
Di sisi lain, kebijakan efisiensi anggaran pemerintah turut berdampak pada industri perhotelan. Selama ini, kegiatan seperti perjalanan dinas, rapat, dan pertemuan instansi menjadi salah satu penyumbang utama okupansi hotel.
“Sekarang kegiatan di hotel seperti rapat dan perjalanan dinas sudah jauh berkurang, dan dampaknya sangat terasa,” kata Ida.
Kondisi serupa juga terjadi pada periode libur panjang lainnya, termasuk saat tahun baru. Okupansi hotel cenderung stagnan dan tidak mencapai 100 persen seperti tahun-tahun sebelumnya.
PHRI Kabupaten Cirebon menilai kombinasi faktor ekonomi, kebijakan efisiensi, dan perubahan pola konsumsi wisata menjadi tantangan bagi industri perhotelan di daerah tersebut.
Pelaku usaha berharap adanya upaya pemulihan melalui peningkatan promosi pariwisata serta relaksasi kebijakan untuk mendorong kembali aktivitas di hotel.
Tanpa intervensi, tren penurunan okupansi dikhawatirkan terus berlanjut dan berdampak pada keberlangsungan usaha perhotelan. (Ghofar)











































































































Discussion about this post