MAJALENGKA, (FC).- Pandemi Covid-19 yang sampai saat ini belum berakhir, hampir meluluhlantahkan semua sendi-sendi ekonomi masyarakat.
Banyak pengusaha yang gulung tikar akibat tidak mampu membayar upah para pekerja.
Buntutnya, banyak sekali terjadi pemutusan hubungan kerja (PHK) yang dilakukan oleh beberapa pengusaha akibat berkurangnya pendapatan, sehingga mau tidak mau pengurangan pekerjapun harus dilakukan demi menyelamatkan perusahaan.
Salah satu korban PHK adalah Samin (38) warga Desa Wanasalam, Kecamatan Ligung, Kabupaten Majalengka.
Dia seorang pekerja di salah satu pabrik garmen yang tak jauh dari tempat tinggalnya.
Perusahaan tempat dia mencari nafkah terpaksa gulung tikar akibat badai pandemi Covid-19 yang menerpa awal tahun 2020 lalu.
Berbagai usaha sudah Samin lakukan untuk menutup kebutuhan rumah tangganya, tetapi setiap usaha yang dirintisnya tidak bisa memberikan hasil untuk bisa menutup kebutuhan keluarganya.
Bahkan hutang kepihak luar pun malah semakin membengkak. Berbekal tekad yang bulat, Samin mulai merintis usaha baru yakni terjun menjadi petani palawija jenis Oyong.
Memanfaatkan lahan milik tetangga yang ada di sekitar rumahnya, Samin bersama teman-teman petani di desanya mulai menanam palawija jenis oyong.
Tak disangka, saat panen perdana tiba, palawija jenis oyong mulai dilirik para bandar sayuran untuk di jual ke pasar induk Jakarta.
Tak disangka sangka, palawija oyong yang biasa harganya murah sekitar Rp2500 per kilogramnya, saat ini harga jual oyong di tingkat petani cukup lumayan, yakni sekitar Rp5000 per kilogramnya.
“Alhamdulillah, saat saya banting setir pasca di PHK dari tempat kerja, kini saya menggeluti menjadi petani dengan menanam palawija jenis oyong. Hasilnya cukup untuk menutup kebutuhan keluarga di rumah,” ujar Samin, Senin (24/5).
Masih kata Samin, dirinya menanam palawija jenis oyong di lahan seluas satu hektar. Lahan ini disewa dari pemiliknya dengan harga sewa sebesar 15 juta dalam setahun.
Sebelum ditanam oyong pada musim rendeng di tanam padi terlebih dahulu. Setelah panen rendengan, baru lahan yang disewanya ditanam palawija.
“Untuk bayar sewa lahan, sudah tertutup dari hasil panen padi rendengan. Sekarang menanam oyong untuk mencari laba atau keuntungannya,” ujar Samin.
Dikatakannya, kalau harga jual oyong stabil di atas Rp4000 per kilogramnya, bisa dipastikan petani oyong akan mendapatkan laba yang lumayan.
Namun andai harga jual oyong kembali turun, maka petani hanya bisa kembali modal bahkan bisa merugi.
Tapi melihat kebutuhan di pasar yang cukup tinggi, Samin berharap harga jual tetap stabil.
Masih dikatakan Samin, dirinya berharap pandemi Covid-19 cepat berakhir, sehingga sendi-sendi ekonomi kembali normal.
Dirinya ikut prihatin kepada teman-teman seperjuangan yang terkena PHK, yang sampai saat ini masih menganggur.
Samin menghimbau agar teman-temannya mencari pekerjaan apa saja di musim pandemi ini, sehingga bisa menutupi kebutuhan keluarganya.
“Saya harap teman-teman yang terkena PHK jangan putus asa, mari kita ciptakan peluang kerja apa saja yang penting bisa menghasilkan uang. Jangan malu jadi pemulung atau petani seperti saya ini. Usaha apa saja kalau digeluti dengan tekun dan ikhlas Insyaallah ada hasilnya, jangan malu menjadi petani, yang penting dapur tetap ngebul,” pungkas Samin. (Munadi)











































































































Discussion about this post