Budi menegaskan, perlu regulasi bagaimana produk Majalengka dimanfaatkan oleh Majalengka sendiri dan hampir 450 T anggaran recovery ekonomi yang didistribusikan ke seluruh kabupaten/kota di Indonesia, mudah-mudahan bisa efektif.
Hal senada diungkapkan mantan politisi sekaligus pengusaha Majalengka H Tete Sukarsa. Dia mengatakan, dampak Covid 19 ini bagaikan air bah, dan semua lini merasakan dampaknya yang luar biasa.
Baca Juga: 39.724 UMKM di Majalengka Sudah Diverifikasi untuk Terima BPUM
“Rata-rata usaha yang gulung tikar belum kuat akarnya tapi sudah berkembang tinggi, beda dengan usaha kecil seperti konveksi yang buat masker dan lain-lain yang bisa survive,” ungkap Tete.
Tete mengatakan, efek pandemi Covid-19 ini mungkin teguran ketika pemerintah bertumpu kepada pertumbuhan konglomerasi atau industrialisasi, kini saatnya pemerintah berpihak kepada pengusaha mikro atau UMKM.
“Keunggulan masyarakat Majalengka memiliki etos kerja yang tinggi, wilayah utara nenek-nenek masih suka ke jebor, di selatan bikin keripik jadi masyarakat Majalengka ini paling bertahan di tengah pandemi covid-19,” tukasnya.
APBD Majalengka juga harus diarahkan kepada yang betul-betul produktif, tidak hanya Pariwisata kecuali dari provinsi, kepada UMKM juga harus diprioritaskan. (Munadi)















































































































Discussion about this post