KOTA CIREBON, (FC).– Tuberkulosis (TBC), merupakan masalah kesehatan dunia yang menyerang semua kelompok umur. Berdasarkan Global TB Report 2022, TBC di Indonesia menjadi penyakit menular paling mematikan ke-2 di dunia setelah Covid-19.
Selain itu, TBC juga menempati urutan ke-13 sebagai faktor penyebab utama kematian di seluruh dunia. Indonesia menempati posisi kedua setelah India dan diikuti oleh China di posisi ketiga dengan kasus sebanyak 969.000 dan kematian sebanyak 144.000.
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI melaporkan terjadi kenaikan sangat signifikan atas temuan kasus TBC pada anak di Indonesia. Kenaikan itu bahkan melebihi 200 persen.
Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular (P2PM) Kemenkes Imran Pambudi menilai, kenaikan ini terjadi lantaran banyak orang tua yang tidak menyadari gejala TBC atau tidak segera mengobati penyakitnya sehingga berimbas penularan pada kelompok rentan seperti anak-anak.
Disebutkannya, kasus TBC anak mengalami peningkatan yang sangat signifikan. Dari 2021 ada 42.187, kemudian 2022 ketemu 100.726, jadi ini naik lebih dari 200 persen.
Bagaimana di Kota Cirebon?
Menurut data di Dinas Kesehatan Kota Cirebon angka kasus TBC pada anak-anak mengalami peningkatan. Walaupun Dinkes tidak menyebutkan angka kasus tahun lalu, tahun ini hingga Agustus 2023 saja sudah ditemukan sebanyak 546 dari target penemuan kasus sebanyak 79.
Sejumlah faktor ditemukan sebagai penyebab meningkatnya angka TBC pada anak-anak khususnya di Kota Cirebon. Faktor meningkatnya angka kasus TBC pada anak-anak diantaranya adalah orang tua atau orang terdekat yang terkena TBC.
Kepala Dinkes Kota Cirebon Siti Maria Listiawati mengatakan, total kasus TBC pada anak hingga Agustus 2023 sebanyak 546.
“Memang kasus TBC pada anak di Tahun 2023 dibanding tahun sebelumnya meningkat sebesar 500 persen,” katanya, ditemui usai Pertemuan Forum Multi Sektor Dalam Jejaring District Publik Private Mix (DPPM), Selasa (29/8).
Menurutnya, peningkatan kasus TBC pada anak disebabkan oleh sejumlah faktor diantaranya adalah banyaknya kasus infeksi laten TBC pada anak atau orang terdekat yang terkena TBC namun tidak terdeteksi.
“Ini yang menarik, kasus TBC pada anak meningkat diantaranya karena adanya orang terdekat atau orang tua yang terkena TBC yang tidak ketahuan atau keluarga yang terkena TBC tapi tidak diobati dengan tuntas,” ujarnya.
Oleh karena itu, untuk menekan dan mengendalikan serta mewujudkan zero kasus TBC di tahun 2030 pihaknya bersama TB KOMUNITAS PENABULU STPI Kota Cirebon berkoordinasi dengan lintas sektoral.
“Bagaimanapun hasilnya di tahun 2030 yang terpenting bagi kita adalah bagaimana menemukan kasus, bagaimana mengobati kasus, bagaimana menemukan infeksi laten TBC, bagaimana melakukan perlindungan, bagaimana mencegah jangan sampai ada kasus baru, dan bagaimana untuk pengobatan sampai tuntas,” pungkasnya. (Frans)
















































































































Discussion about this post