Kondisi perkembangan penyebaran Covid-19 di dunia saat ini kembali menunjukkan grafik meningkat, tidak terkecuali di Indonesia.
Tahun 2022 ini, wabah yang disebabkan oleh virus SARS-Cov-2 masih menunjukkan keeksisannya. Data dari WHO menunjukan bahwa kasus Covid-19 mulai terjadi lonjakan kembali sejak akhir Desember 2021 di seluruh dunia.
Di Indonesia, sejauh ini lonjakan kasus baru harian mulai meningkat di pertengahan Februari 2022 dengan angka kasus harian berkisar 34 ribu hingga pernah menyentuh angka 64 ribu lebih kasus.
Program Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) dari pemerintah yang telah diterapkan sejatinya dapat berjalan efektif ditandai dengan penekanan jumlah kasus Covid-19 di Indonesia beberapa bulan terakhir.
Namun, di sisi lain virus memiliki kemampuan untuk beradaptasi dan bermutasi untuk menyesuaikan dengan perubahan lingkungannya.
Hal ini menyebabkan kemunculan varian-varian baru yang tak jarang memiliki kemampuan berbeda dari varian sebelumnya, seperti kemampuan transmisi hingga menurunkan efektivitas vaksin.
Gejala
Gejala-gejala yang ditimbulkan varian baru bisa sedikit berbeda dibandingkan dengan varian lain, seperti gejala khas pada pasien Covid-19 yaitu kehilangan indera pengecap dan penciuman. Orang yang terpapar virus varian omicron, misalnya, dilaporkan tidak selalu kehilangan indera pengecap dan penciuman, tetapi ada gejala lain yang menyertai seperti misalnya nyeri otot.
Dari sini kita bisa melihat bahwa berkembangnya varian Covid-19, diiringi juga semakin beragamnya gejala sakit yang bisa disebabkannya. Bahkan gejala penyakit musiman seperti flu dan batuk biasa akan semakin tersamarkan dengan gejala-gejala Covid-19.
Varian Omicron menjadi varian terkini yang tengah menjadi perbincangan hangat di seluruh dunia. Centers for Disease Control and Prevention (CDC) menyatakan bahwa varian Omicron memiliki kemampuan transmisi yang lebih tinggi sehingga lebih mudah menyebar dibandingkan dengan virus aslinya dan varian Delta.
Lonjakan kasus di seluruh Indonesia, dan dunia, menjadi gambaran nyata kemampuan varian baru ini. Data dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia saat artikel ini ditulis (24-25 Februari 2022), dalam rentang 24 jam terkonfirmasi jumlah kasus baru hingga mencapai 57 ribu lebih kasus, yang mana angka ini lebih tinggi dibandingkan kasus harian saat gelombang pertama maupun saat era varian Delta.
Orang yang terinfeksi varian Omicron dapat menyebarkan virus kepada orang lain, bahkan kepada orang yang sudah tervaksinasi sekalipun. Ada atau tidaknya gejala dan tingkat keparahan yang ditimbulkan dipengaruhi oleh status vaksinasi, kondisi kekebalan tubuh, umur, maupun infeksi dari penyakit sebelumnya.
Lebih rentan
Pakar penyakit menular Amerika Serikat, Dr. Anthony Fauci, menyebutkan bahwa orang yang tidak atau belum divaksin, ada kemungkinan 10 kali lebih rentan terinfeksi varian Omicron daripada mereka yang sudah divaksin.
Selain itu, ada resiko yang lebih besar juga terkait dengan keparahan penyakit hingga membutuhkan perawatan di rumah sakit, bahkan kematian.
Artinya, hal ini tetap menjadi hal serius untuk dicermati terutama untuk kalangan yang belum mendapatkan vaksin maupun yang tidak bisa divaksin karena pertimbangan medis.
Varian baru ini tetap berbahaya dan tidak bisa disepelekan karena tetap mampu menginfeksi semua kalangan.
Bahkan, tidak menutup kemungkinan varian ini mampu untuk menginfeksi orang-orang dengan vaksin lengkap (vaksin 1 dan 2) maupun orang yang sudah pernah terjangkit Covid-19.
Menurut Dr. Fauci, efektivitas vaksin yang ada saat ini turun menjadi 30 persen untuk melawan varian Omicron.
Namun demikian, vaksin masih sangat dibutuhkan karena dapat meminimalkan gejala Covid-19, kemudian sampai 70 persen mencegah rawat inap hingga kematian. CDC mengungkapkan pentingnya vaksin booster (vaksin dosis ketiga) setidaknya 6 bulan setelah vaksin dosis kedua.
Vaksin booster akan melengkapi kinerja 2 dosis vaksin sebelumnya yang seiring dengan berjalannya waktu kemampuan proteksinya akan menurun dalam melawan virus dan mencegah terjadinya infeksi.
Booster akan berperan dalam meningkatkan kembali tingkat kekebalan tubuh yang diperlukan di tengah ancaman kemunculan varian baru.
Hidup bersih
Di sisi lain, fenomena munculnya varian Omicron, bukan berarti varian-varian sebelumnya sudah musnah atau hilang. Kita tahu bahwa sebelumnya telah muncul varian Beta, Gamma, Alfa, kemudian dilanjutkan dengan varian Delta, dengan berbagai subvariannya. Varian-varian ini masih tetap memiliki potensi untuk menginfeksi manusia. Bahkan, varian Omicron sendiri dilaporkan sudah ‘memiliki’ subvariannya, yang secara genetik berbeda.
Di sini kita tahu, kita sedang menghadapi ancaman virus Covid-19 dengan berbagai variannya dan karakteristiknya.
Maka dari itu, kembali lagi tentang pelaksanaan protokol kesehatan dan pola hidup bersih. Prokes dapat dikatakan menjadi benteng terakhir kita untuk mengantisipasi ancaman virus Covid-19.
Kedisiplinan dalam menjalankan prokes akan membantu melindungi diri kita dan lingkungan sekitar kita agar tetap sehat dan fit di tengah keadaan pandemi ini. Tetap, jangan panik, tetapi juga jangan lengah. Tetap antisipatif, karena mencegah akan selalu lebih baik daripada mengobati.***
Oleh: Achmad Salim
(Ketua Qohuwa Buntet Pesantren)













































































































Discussion about this post