KOTA CIREBON, (FC).- Setiap Presiden yang sudah selesai masa jabatannya punya julukan masing-masing. Termasuk Kiai Haji Abdurrachman Wahid atau sering disebut Gus Dur, Presiden RI ke-4.
Lahir di Jombang, Jawa Timur, tanggal 7 September 1940, Gus Dur adalah putra dari enam bersaudara dari keluarga yang sangat terhormat dalam komunitas muslim Jawa Timur. Kakek dari ayahnya adalah K.H. Hasyim Asyari, pendiri Nahdlatul Ulama (NU), sementara kakek dari ibunya adalah K.H. Bisri Syansuri.
Gus Dur pada masa pemerintahannya dikenal sebagai Bapak Pluralisme. Julukan kepada Gus Dur itu karena dirinya sangat menghargai keberagaman dalam berbagai hal, terutama keberagaman suku, agama dan ras.
Berdasarkan keterangan dari Museum Kepresidenan Republik Indonesia, Balai Kirti yang ditulis di akun resmi Instagram Kementerian Sekretariat Negara @kemensetneg.ri, Gus Dur mendapatkan julukan Bapak Pluralisme, karena memberikan gagasan-gagasan universal mengenai pentingnya menghormati perbedaan sebagai bangsa yang beragam dan lantang dalam membela minoritas.
Oleh karena itu, Gus Dur diterima oleh semua kalangan. Seperti malam puncak haul Gus Dur ke-13, yang diselenggarakan di Aula Gereja Bunda Maria Cirebon, Sabtu (28/1).
Kegiatan tersebut banyak dihadiri dari berbagai kalangan, mulai dari pemuka agama, organisasi bahkan Inayah Wahid, sebagai putri dari Gus Dur turut hadir dalam acara haul ini.
“Haul Gus Dur ke – 13 ini dalam rangka untuk mendoakan serta memperingati wafatnya K.H Abdurrachman Wahid atau yang lebih dikenal dengan Gus Dur. Gus Dur adalah seorang yang menjunjung tinggi toleransi terhadap sesama antar umat beragama,” ujar Ketua Pelaksana Haul Gusdur ke-13, Eva Zulfauzah.
Di sisi lain juga, acara haul ini merupakan moment penting, dengan mengingat dan merefleksikan kembali kiprah- kiprah beliau semasa hidupnya yang begitu banyak jejak- jejak yang patut dicontoh.
“Dengan diadakannya acara haul ini pula diharapkan sebagai ajang pertemuan untuk memperkuat kembali masyarakat Cirebon yang beragam,” ujarnya.
Alasan mengapa acara haul ini diselenggarakan di lingkungan gereja sendiri adalah sebagai upaya untuk membawa spirit keagamaan dan keberagaman, serta menunjukan bahwa Gus Dur adalah milik bersama.
Untuk tahun- tahun berikutnya diharapkan acara haul ini juga dapat diselenggarakan di tempat- tempat yang mencerminkan spirit itu. (Agus)
















































































































Discussion about this post