Uung mengakui tidak akan membatasi pelayanan pada dua pilihan tersebut. Bagi penyuka pantun ini, masyarakat harus mendapatkan pilihan konstrasepsi sesuai yang diinginkannya. Jika seorang calon peserta KB tidak menyukai satu jenis kontrasepsi, dia bisa memilih jenis lainnya. Baik MKJP maupun non-MKJP.
BKKBN menyebutnya sebagai kafetaria kontrasepsi. Masyarakat bebas menentukan pilihan yang sesuai selera atau kecocokan.
Di tempat yang sama, Ketua Fatayat NU Jawa Barat, Hirni Kifa Hazefa yang secara khusus hadir dalam media gathering BKKBN Jabar mengungkapkan pihaknya siap berkolaborasi dengan semua pihak, termasuk BKKBN.
Untuk menyukseskan kolaborasi ini, Hirni siap mengerahkan segenap potensi yang dimilikinya. Baik melalui jejaring organisasi maupun dengan pengayaan materi pada program-program yang selama ini sudah berjalan.
“Fatayat NU memiliki kegiatan-kegiatan yang sudah given berjalan. Kami memiliki pengajian rutin, Fatayat Day, deep talk atau obrolan mendalam membahas seputar agama dan keluarga, dan lain-lain. BKKBN bisa memanfaatkan program given ini menambah materi khusus. Sebelum ke sana, tentu para da’iyah yang berhadapan langsung dengan jemaah maupun pengelola organisasi memerlukan pembekalan atau pengembangan kapasitas terkait program-program BKKBN yang akan disampaikan,” ungkap Hirni.
Di samping itu, Fatayat NU juga membuka diri untuk bersama-sama dengan BKKBN mengembangkan program baru yang lebih menukik pada sasaran. Salah satunya konseling pranikah yang sudah disepakati belum lama ini.














































































































Discussion about this post