KAB. CIREBON, (FC).- Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kabupaten Cirebon gagal memenuhi target investasi tahun 2025.
Dari target Rp3,8 triliun, realisasi investasi hanya mencapai Rp2,6 triliun.
Kepala DPMPTSP Kabupaten Cirebon, Hilmy Rivai, mengungkapkan kegagalan tersebut antara lain dipicu oleh mundurnya empat investor besar yang sebelumnya menyatakan minat berinvestasi.
Empat investor Penanaman Modal Asing (PMA) itu berasal dari China, Korea, Vietnam dan Belanda.
Hilmy menjelaskan, kondisi geopolitik global memengaruhi keputusan investor untuk menunda rencana investasi di Kabupaten Cirebon tahun 2025.
Nilai investasi empat investor PMA itu diproyeksikan mencapai di atas Rp5 triliun.
“Investor mengikuti fenomena geopolitik internasional. Ada empat investor besar yang menunda investasi. Padahal nilainya cukup signifikan,” ujarnya.
Investor dari China berencana membangun kawasan industri di Cirebon Timur.
Menurut Hilmy, investor tersebut mengajukan kebutuhan lahan seluas 500 hektare.
Namun, rencana itu kandas karena keterbatasan kesiapan lahan Kawasan Peruntukan Industri (KPI).
“China membutuhkan lahan yang instan. Sementara KPI kita belum manjadi daya tarik bagi investor luar negeri,” kata Hilmy kepada FC, Jumat (9/1).
Ia menjelaskan, lahan di wilayah pesisir Cirebon Timur itu memerlukan pengurugan dengan biaya tinggi.
Bahkan jika dihitung-hitung, biaya pengurugan itu lebih mahal dari biaya pembebasan lahannya sendiri.
Hilmy mengaku telah menyampaikan persoalan ini kepada Wakil Ketua DPRD Kabupaten Cirebon, Teguh Merdeka.
Ia berharap ada evaluasi terkait lahan industri pesisir.
“Tanah-tanah di pesisir perlu dievaluasi karena memang kurang menarik bagi investor,” tegasnya.
Meski demikian, peluang investasi di luar kawasan pesisir dinilai masih cukup tinggi.
Ia optimistis beberapa investor dapat merealisasikan investasinya pada 2026.
“Ada dua investor besar yang berencana membuka pabrik tinta dan alas kaki,” ungkap Hilmy.
Selain itu, sektor garam di wilayah utara Cirebon juga menjadi magnet investasi baru.
Seiring penetapan kawasan utara sebagai kawasan garam berdasarkan Perda Provinsi, dua investor besar itu tertarik mengembangkan industri garam skala besar.
Salah satu investor besar ini disebut merupakan konsorsium dari empat negara yaiu Kuwait, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Qatar.
Mereka menyatakan minat untuk mengolah air laut menjadi air baku layak minum dan kebutuhan industri, sekaligus produksi garam industri.
“Kebutuhan lahannya tidak besar, sekitar 15 hektare, berlokasi di Ambulu dan ada yang di wilayah utara Cirebon,” jelas Hilmy.
Investor tersebut menginginkan kerja sama dengan pemerintah daerah atau pemerintah desa dalam penyediaan lahannya.
Hilmy berharap rencana investasi yang masih tersisa dapat terealisasi dengan baik, sehingga akan berdampak langsung pada pertumbuhan ekonomi daerah.
“Harapannya ada efek ekonomi, penurunan pengangguran, dan membantu menekan angka kemiskinan,” pungkasnya. (Andriyana)











































































































Discussion about this post