“Kita simpel saja, lebih ke arah regulasi, kita bukan mau berpihak ke TN, tapi ketika TN diterapkan, regulasinya cukup kuat untuk mempertahankan perlindungan hutan Ciremai,” papar Mezique.
Sementara, di TAHURA, imbuhnya, regulasi tersebut menurun. Kekhawatiran pihaknya, ketika ada penurunan regulasi itu, bisa menjadi celah masuknya investor besar untuk bebas mengelola hutan Ciremai.
“Ini kan keputusan bersama karena resikonya juga ditanggung bersama. Jangan sampai ini diputuskan oleh satu orang pejabat ataukah golongan tertentu,” tandasnya lagi.
Sementara itu, Amalo, salah satu sesepuh Aktivitas Anak Rimba (Akar) Kuningan yang hadir dalam aksi ini menjelaskan bahwa Aksi yang digelar ini sifatnya hanya Warning dari sebuah kebijakan yang tidak masuk akal.
“Cuman bentuk ada kebijakan yang tidak masuk akal. kita hanya sekedar warning bahwa kebijakan tidak masuk akal tadi yaitu perubahan status TNGC menjadi Tahura ini bahaya dan ada perlawanan, cuman itu aja,” tegas Amalo.
Menurutnya, Ciremai itu sangat penting sehingga membutuhkan pengamanan dan perlindungan yang maksimal, dan pengamanan dan perlindungan maskimal itu hanya bisa didapat jika statusnya adalah Taman Nasional.
“Kita memang Save TNGC bukan Save Balainya, karena Ciremai penting, Ciremai butuh Pengamanan dan Perlindungan yang maksimal, dan hanya bisa kalau statusnya Taman nasional, itu aja sederhananya,” pungkasnya. (Bambang)















































































































Discussion about this post