Dengan membeli bahan baku dari petani ubi, petani cabai, pedagang bumbu dan menjadikan masyarakat sekitar sebagai karyawan produksi atau reseller produk, usaha yang dirintisnya ini diharapkan ikut mendukung peningkatan pendapatan masyarakat desa dan mendukung kesejahteraan masyarakat dalam jangka panjang.
Di tangan Tasya, kripik ubi manohara memiliki keunikan dan keunggulan dari berbagai sisi. Diantaranya yaitu olahan keripik ubi yang memiliki berbagai varian rasa pedas (pedas asin, balado, jagung bakar) dengan tingkat kepedasan dari level satu sampai level tiga.
“Yang gak suka pedas gak usah khawatir, untuk penyuka makanan manis, kami menyediakan rasa coklat, dengan kemasan yang menarik, edukatif dan informatif menjadi nilai jual produk keripik ubi,” lanjut Tasya sambil promosi.
Keripik Ubi yang dibuat Tasya telah lulus uji laboratorium pada tanggal 30 Juli 2020 di Bandung. Terdapat informasi kandungan gizi pada kemasan sebagai bagian dari edukasi konsumen.
“Kualitas bahan baku dan bahan penunjang sangat diperhatikan selama proses produksi, sehingga kami mampu meyakinkan konsumen bahwa produk dari desa mampu memiliki tingkat higienitas yang tinggi,” jelasmya.
Untuk pemasaran, walaupun usaha Keripik Ubi baru sekitar 3 bulanan, namun telah melakukan penjualan produk ke berbagai wilayah di Indonesia, seperti Jakarta, Bandung, Malang bahkan sampai ke Bali.
Dengan melakukan transaksi dan membantu Gerakan MARRS.ID, konsumen telah berkontribusi dalam membuka lapangan pekerjaan, meningkatkan pendapatan perkapita masyarakat dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa.
“Saya berharap, produk Keripik Ubi MARRS mendapat dukungan dari berbagai pihak dan bisa bekerjasama dengan toko oleh-oleh di Kuningan untuk menjadi salah satu produk makanan khas Kuningan. Untuk pemesanan produk, dapat menghubungi 0895806750002 atau dm instagram @marrs.id,” pungkas Tasya. (Bambang)









































































































Discussion about this post