KOTA CIREBON, (FC).- Dampak banjir yang melanda Kelurahan Kalijaga dan sekitarnya pada Senin sore (5/1/2026) masih dirasakan warga hingga hari Selasa (6/1/2025).
Selain merendam permukiman, banjir juga menggenangi sejumlah fasilitas umum dan sarana pendidikan, meninggalkan endapan lumpur tebal di berbagai titik.
Untuk mempercepat pemulihan pasca banjir, Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (DPKP) Kota Cirebon turut diterjunkan dalam upaya pembersihan wilayah terdampak. Puluhan personel dikerahkan guna membersihkan sisa lumpur yang menghambat aktivitas masyarakat.
Sekretaris DPKP Kota Cirebon, Hanry David menjelaskan pihaknya menurunkan lima regu pembersihan pada Selasa (6/1/2026). Setiap regu beranggotakan sekitar 10 personel yang disebar ke lokasi-lokasi terdampak banjir dengan tingkat kerusakan cukup parah.
“Untuk penanganan pasca bencana ini, kami bergabung dalam tim terpadu. Sebanyak lima regu dan tiga unit mobil pemadam kami kerahkan untuk membantu pembersihan,” ujar Hanry, Rabu (7/1/2025).
Menurutnya, ketebalan lumpur sisa banjir di sejumlah lokasi cukup tinggi sehingga membutuhkan armada Damkar dengan tekanan air besar. Selain di Kelurahan Kalijaga, personel juga melakukan pembersihan di wilayah Kecamatan Lemahwungkuk.
“Namun yang paling dominan dampaknya memang berada di Kalijaga,” ungkapnya.
Sedikitnya ada enam titik prioritas yang menjadi sasaran pembersihan, di antaranya kawasan Petilasan Kalijaga, Perumahan Montana Kalijaga, Perumahan Keandra Kalijaga, sejumlah lokasi di Lemahwungkuk, Madrasah Ibtidaiyah (MI) Darul Ulum Kalijaga, serta Yayasan Zubaidi di Kelurahan Kecapi.
Henry menambahkan, MI Darul Ulum Kalijaga menjadi salah satu lokasi dengan dampak terparah. Lumpur setinggi 5 hingga 10 sentimeter menutupi ruang kelas dan merusak berbagai sarana penunjang kegiatan belajar mengajar, mulai dari buku pelajaran, dokumen penting, hingga perangkat elektronik.
“Sekolah ini cukup berat dampaknya karena banyak fasilitas pendidikan yang terendam,” jelasnya.
Ia menegaskan, fokus utama pembersihan dilakukan pada fasilitas umum dan sarana pelayanan publik, seperti jalan, sekolah, dan madrasah. Sementara untuk rumah warga, Damkar meminta masyarakat melakukan pembersihan secara mandiri.
“Kami prioritaskan fasilitas umum terlebih dahulu. Untuk rumah tinggal, warga diminta bersabar dan melakukan pembersihan sendiri,” pungkas Hanry. (Agus)













































































































Discussion about this post