KUNINGAN, (FC).- Tangis haru pecah dari pasangan Ahmad Taufik dan Yuliwati saat menerima bantuan modal usaha dari Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kabupaten Kuningan.
Bagi pasangan penjual gorengan dan bensin eceran asal Desa Cikaso tersebut, bantuan itu menjadi penyemangat baru untuk melanjutkan perjuangan memenuhi kebutuhan keluarga sekaligus mendukung pendidikan tiga anak kembar mereka yang mengalami tuna netra.
Di balik kehidupan sederhana, Ahmad dan Yuliwati menjalani perjuangan panjang membesarkan enam anak.
Tiga di antaranya, Farhaz, Farhan, dan Farhat, terlahir sebagai penyandang tuna netra. Namun keterbatasan fisik tidak menghalangi semangat mereka untuk belajar.
Ketiga anak kembar tersebut bahkan mampu menghafal satu juz Al-Qur’an dan kini menempuh pendidikan di sekolah khusus dengan impian menjadi dosen di masa depan.
Kisah perjuangan keluarga itu kemudian mendapat perhatian Baznas Kabupaten Kuningan.
Melalui program pemberdayaan ekonomi, Baznas memberikan bantuan modal usaha sebesar Rp1,5 juta untuk membantu mengembangkan usaha yang selama ini menjadi sumber penghasilan keluarga.
Ketua Baznas Kabupaten Kuningan, Yusron Kholid, mengatakan bantuan tersebut merupakan bagian dari kepedulian lembaganya terhadap masyarakat yang membutuhkan, khususnya dalam mendorong kemandirian ekonomi.
“Memang nilainya tidak besar, tetapi mudah-mudahan dapat membantu menambah modal usaha sehingga usaha mereka bisa lebih berkembang,” ujar Yusron, Jumat (10/7).
Menurutnya, program tersebut juga menjadi bagian dari sinergi Baznas dengan Pemerintah Kabupaten Kuningan melalui program Gema Sadulur (Gerakan Bersama Ngariksa Duafa, Lansia, dan Pengangguran).
“Baznas hadir untuk mengambil bagian dalam membantu masyarakat yang membutuhkan melalui program pemberdayaan,” katanya.
Saat menerima bantuan, Ahmad dan Yuliwati tidak mampu menyembunyikan rasa haru. Bagi mereka, bantuan tersebut bukan hanya soal nilai materi, tetapi juga bentuk perhatian dan dukungan terhadap perjuangan keluarga mereka.
“Bantuan ini sangat membantu kami untuk tambahan modal usaha. Mudah-mudahan usaha kami semakin baik,” ungkap Ahmad.
Selama ini, pasangan tersebut mengandalkan pendapatan dari berjualan gorengan dan bensin eceran dengan penghasilan yang tidak menentu.
Meski penuh keterbatasan, mereka tetap berkomitmen memberikan pendidikan terbaik bagi keenam anaknya.
“Anak kami ada enam. Tiga di antaranya tuna netra. Mereka punya cita-cita menjadi dosen dan sekarang belajar di sekolah khusus. Bantuan ini sangat berarti bagi kami,” tuturnya.
Bantuan modal tersebut rencananya akan digunakan untuk membuat gerobak dagang yang lebih layak agar usaha mereka dapat berkembang.
Ahmad dan Yuliwati berharap usaha yang semakin baik mampu menopang kebutuhan keluarga sekaligus mengantarkan anak-anak mereka meraih cita-cita.
Kisah keluarga ini menjadi gambaran bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk terus berjuang. Dengan dukungan dan kepedulian berbagai pihak, harapan untuk kehidupan yang lebih baik tetap terbuka. (Angga)










































































































Discussion about this post