KAB. CIREBON, (FC).- Ratusan pengusaha dan pengrajin batu alam yang berada di Kecamatan Dukupuntang, Depok dan Kecamatan Palimanan Kabupaten Cirebon terancam gulung tikar, ribuan pekerja pun bakal di rumahkan.
Hal itu disebabkan, dampak dari adanya penutupan seluruh ijin aktifitas tambang galian C se Jawa Barat yang dilakukan oleh Gubernur Jawa Barat pasca kejadian tragedi longsor mematikan Gunung Kuda di Desa Cipanas Kecamatan Dukupuntang Kabupaten Cirebon pada, Jumat (30/5/2025) lalu.
Perwakilan Paguyuban Pengusaha Batu Alam Cirebon (PPBAC),Tarsiwan mengungkapkan, dari total 270 pelaku industri batu alam, sebanyak 75 persen sudah berhenti beroperasi. Para pekerja pun nganggur.
Ia menyebut, bahwa pemerintah harus bertanggungjawab penuh atas kebijakan yang diambil atas penutup area pertambangan di Majalengka dan Cirebon yang berdampak kepada nasib industri batu alam di Kabupaten Cirebon.
“Pelaku industri batu alam yang tutup lantaran kesulitan mendapatkan bahan baku berupa batu andesit. Sementara mayoritas bahan baku batu alam dari area pertambangan di Majalengka. Kemudian sisanya untuk jenis batu tertentu berada di Gunung Kuda,” kata Tarsiwan, Selasa (17/6).
Dampak dari kebijkan itu, menurut Tarsiwan yang harus difikirkan adalah, nasib para pekerja atau karyawan di pabrik industri batu alam. Betapa tidak, jumlahnya mencapai 13 ribu lebih pekerja.
Teriakan para pelaku usaha ini lantaran muncul tuntutan dari pekerja yang sudah hampir satu bulan menganggur.
“Pemerintah mampu tidak mempekerjakan mereka?. Harusnya pemerintah itu berterima kasih kepada kami yang ikut andil mengurangi angka pengangguran karena dari aktivitas industri batu alam ribuan orang terserap untuk bekerja,” tegas Tarsiwan.
Ia menegaskan, bahwa penutupan area pertambangan itu memiliki dampak luar biasa dan menimbulan multiplayer effect (efek berdanda) Harusnya, ada solusi yang ditawarkan pemerintah. Bukan ditinggal begitu saja tanpa solusi.
“Industri batu alam itu bagian dari seni. Seni Cirebon jangan sampai mati. Hilang. Kemudian diadopsi oleh negara lain. Apa gak bahaya, batu alam Cirebon itu sudah ekspor ke luar negeri karena motif dan ukirannya yang memiliki ciri khas tinggi harus hilang begitu saja,” ucapnya.
Warga Membutuhkan Pekerjaan
Ia menjelaskan, kesulitan bahan baku itu setelah insiden longsor Gunung Kuda. Namun, yang mesti difikirkan pemerintah adalah masih banyak warga membutuhkan pekerjaan.
“Yang meninggal memang banyak. Ada sekitar 25 orang. Tapi, yang menjerit ribuan pekerja kebutuhan hidup harus berjalan. Setelah area pertambangan ditutup total. Hulunya ditutup. Hilirnya teriak padahal masih ada lahan yang dimiliki perorangan (bukan milik perhutani) tapi ikut di tutup juga,” paparnya.
“Kalau bicara banyak yang meninggal. Justru lebih banyak lagi pekerja yang mati-matian cari makan untuk istri. Setiap pekerjaan punya resiko. Musibah itu bukan hanya di gunung. Ada juga di laut. Di jalan tol dan tempat – tempat lainnya pasti memiliki resiko,” jelasnya.
Di lokasi yang sama, penasehat Paguyuban Pengusaha Batu Alam Cirebon, H Yadi Supriyadi menyampaikan, bahwa industri batu alam di Cirebon ini sebagai salah satu penopang ekonomi masyarakat. Maka, ia menilai keputusan pemerintah menutup semua area tambang tidak tepat. Keputusannya terlalu terburu-buru. Tanpa solusi.
Sementara yang terdampak luar biasa banyaknya. Mulai dari pengorder, pabrik, pekerja, sopir, kuli bongkar muat, pemecah batu, tukang ukir,
“Kalau mutuskan galian ditutup memang Itu hak pemerintah yang punya kuasa. Tapi kami dari paguyuban, harusnya kaji ulang ada poin-poin yang harusnya dipikirkan bersama untuk mencari solusi,” paparnya.
Ia mengaku, pihaknya kesulitan mendapatkan bahan baku batu alam pasca penutupan aktivitas tambang di Gunung Kuda.
“Kami tidak minta lebih. Permudah dan perketat proses perizinan tambang galian C. Termasuk cara penambangannya. Tidak asal. Karena kami ikut terdampak,” ucapnya.
Sebagai pelaku usaha, Yadi mendapat beban moral luar biasa dari para pekerja. Sementara industri batu alam terancam mati. Maka, muncul kesenjangan sosial.
“Ketika pekerja batu alam menganggur. Kemudian perut berbicara. Khawatir gelap mata. Angka kriminalitas meningkat. Apa ini gak bahaya?,” ucapnya seraya bertanya.
“Pada posisi ini, pengrajin industri batu alam bisa bergerak, ketika ada suplaian bahan baku yang berkesinambungan,”tandasnya.
Sementara itu, pantauan di lokasi tampak sejumlah pekerja yang masih beraktifitas mereka bekerja bukan lantaran menerima orderan pembeli, melainkan hanya membersihkan sisa – sisa batu alam yang tak laku terjual.
Deru bising mesin pemotong batu pun terdengar perlahan menghilang meski beberapa diantaranya masih aktif.
“Mengerjakan sisa stok aja mas untuk beberapa hari kedepan makanya mesin masih jalan sambil daur ulang potongan batu yang tak laku,” ujar Nasir pekerja potong batu. (Johan)
















































































































Discussion about this post