KOTA CIREBON, (FC).- USIANYA sudah 65 tahun. Punya 6 orang anak dari 5 istri. 4 istri sebelumnya cerai-hidup. Anak dan istri terakhir tinggal di Desa/Kecamatan Ciawigebang, Kabupaten Kuningan.
Dari istri kelima itu dikaruniai 2 orang anak. Si bungsu laki-laki, sudah kelas 2 SD. Selalu merengek ingin sunat.
Tapi kedua orang tua belum punya uang. Kakak si bungsu perempuan. Duduk di bangku menengah atas (SMA) kelas 1.
Sehari-hari penghasilan Kholik tak menentu. Tak jarang tidak ada pelanggan sama sekali. Padahal sudah bergegas sejak pukul 7 pagi. Setengah 10 malam mulai berkemas. Lalu pulang.
Bukan pulang ke rumah istri di Ciawigebang itu. Tapi ke masjid yang ada di sekitar Jl Ampera, Kelurahan Pekiringan, Kota Cirebon.
Sepanjang malam Kholik menghabiskan malam di rumah ibadah tersebut. Dia juga merupakan warga asli setempat.
Kapan pulang? “Ketika ada uang,” ujarnya. “Minimal Rp300 ribu. Kalau kurang tidak enak sama istri,” sambungnya.
Dikatakan, uang Rp300 ribu diperoleh secara gopoh-gopoh. Paling cepat satu minggu. Tak jarang 2 minggu.
Paling sedih lebih dari itu. Satu kali pijat dipatok Rp75 ribu. Dari ujung kaki hingga ujung rambut dijamah. Durasi sekitar 2 jam. “Saya kalau pijat biasa mangkal,” terangnya.
Ada tiga titik yang biasa dijadikan mangkal itu. Di Jl Ahmad Yani, Jl Kembar dan Jl Tentara Pelajar.
Pokoknya samping jalan utama. Lalu dia pilih lokasi sepi atau bangunan tak berpenghuni, dekat dengan jalur utama tersebut.
Seperti rumah dinas Kereta Api Indonesia (KAI) di Jl Tentara Pelajar. Rumah dinas itu tak berpenghuni. Disewakan. Ada cukup ruang di bagian teras. Digelarlah sarung milik Kholik. Dijadikan sebagai alas bagi yang mau pijat.
Ke mana-mana, anak ke-9 dari 10 bersaudara itu mengandalkan sepeda. Merk Olympic. Warna ungu. Sadelnya dibungkus plastik. Tak lupa selalu mengalungkan papan.
Bertuliskan: pijat, sehat, kuat, semangat, hebat. Papan kalung itu menghadap ke belakang. Agar tulisan tadi bisa dibaca orang.
Tidak lupa, di bagian paling bawah dari tulisan tadi dibubuhkan nomor handphonenya: 0852 1113 6559. Papan informasi ini juga ditaruh di sisi jalan utama ketika Kholik sudah mulai mangkal. Tujuannya sama. Agar pengendara yang melintas jalur itu melihat. Syukur-syukur mampir.
“Isun (saya,-red) sudah 4 kali ilang handphone,” tutur Kholik, sambil terus memijit wartawan koran ini kemarin. Sekitar pukul 2 siang itu dia ditemui di Jl Tentara Pelajar. Handphone Kholik sudah Android. Jenis Samsung Young. Namun belum terhubung ke internet. Pelanggan yang ingin menggunakan jasa meski telepon. Atau kirim SMS.
Keluarga
Anak pertama hingga ke-3 Kholik perempuan. Si sulung usia 32 tahun. Sudah pernah menikah. Namun cerai. Kini tinggal di Jl Diponogoro Selatan, Kota Cirebon. Bersama ibunya. Anak kedua sudah beda ibu. Usia 31 tahun.
Kini merantau di Taiwan. Sudah 7 tahun. Selama itu, pernah pulang ke Indonesia 2 kali. Anak kedua ini juga sudah menikah. Juga cerai. Sudah punya seorang anak yang secara otomatis menjadi cucu Kholik.
“Saya punya cucu 2,” tuturnya.
Cucu kedua ini dari anak ketiga. Yang sekarang tinggal di Tangerang bersama suaminya. Anak ketiga ini strata pendidikannya sama dengan bapaknya.
Sama-sama sarjana. Bedanya, perempuan ini Sarjana Farmasi. Siapa yang membiayai hingga sarjana itu? Bukan Kholik.
“Tapi kakaknya yang ada di Taiwan. Dan dibiayai ibunya yang sekarang ada di Turki,” sambung Kholik.
Kenapa tidak ikut tinggal bersama anak-anak? “Ekonomi sekarang lagi susah,” kata Kholik lagi.
terus terang Kholik tak mau merepotkan anak-anaknya. Apalagi yang sudah punya suami. Apalagi yang sekarang tinggal bersama ibunya masing-masing.
“Karena ngirim uang juga jarang. Kadang-kadang aja ngirim, 3 bulan sekali,” jelasnya.
Juga anak keempat yang berusia 19 tahun. Sekarang tinggal bersama sang ibu di Pamengkang, Kabupaten Cirebon. Anak keempat yang juga perempuan itu sudah pernah bekerja.
Namun resign. Dia belum menikah. Masih cari-cari tempat kerja baru.
Wartawan koran ini telah meminta persetujuan Kholik untuk mempublikasikan semua yang diceritakan. Kholik juga tak keberatan.
Termasuk soal hutang bank. Meski dia pensiunan PNS golongan III D, dengan gaji Rp2.565.000 tiap bulan, tetap merasa kekurangan. Apalagi hutang bank-nya itu menumpuk.
“Sudah sekitar Rp171 juta. Jadi tambal-sulam aja untuk keperluan hidup,” jelasnya.
Jadi, gaji dari uang pensiunan itu tak diterima utuh. Tiap bulan otomatis terpotong untuk membayar cicilan bank itu. “Hanya tersisa Rp250 ribu (dari gaji pokok seluruhnya,-red),” tukasnya.
Dan cicilan bank itu separuhnya pun belum terbayar. Masih jauh dari kata lunas. Yang ada terus bertambah. Karena dia selalu meminjam hutang di saat kebutuhan pokok tak lagi tercukupi.
Kholik bekerja sebagai tukang pijit baru satu tahun. Keahlian memijit itu diperoleh dari pengalaman. Sebab dia pernah bekerja di pijat refleksi, masih di daerah Cirebon. “Juga dari baca-baca buku panduan pijat,” bebernya, menceritakan keahlian memijat.
Dilalah, masih banyak orang baik yang sering dia jumpai. Yang kadang-kadang memberikan Kholik uang hingga sembako. Beberapa nasi bungkus.
“Jadi tiba-tiba ngasih uang aja. Rp100-200 ribu. Kalau Rp50 ribu mah sering. Mungkin kasihan atau apa ya,” jelasnya.

Pendidikan
Seperti yang telah disinggung, Kholik merupakan seorang Sarjana Pendidikan. Dia pernah kuliah di Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Jakarta.
Yang sekarang berubah nama menjadi Universitas Negeri Jakarta (UNJ). Saat itu dia menempuh pendidikan di Fakultas Bahasa Inggris. Sayang hanya bertahan satu semester.
Juga pernah berstatus mahasiswa di IKIP Bandung. Yang juga berubah nama menjadi Universitas Pendidikan Indonesia. Di IKIP Bandung, dia tercatat sebagai mahasiswa Fakultas Bahasa Perancis. Sayang, tak sampai lulus.
Mampu bertahan 2 semester atau sekitar 1 tahun. “Karena tidak ada biaya,” bebernya. Saat itu sekitar tahun 1977.
Lalu pada 1978, Kholik kembali ke kampung halaman di Cirebon. Dia melanjutkan kuliah di universitas di Kota Cirebon. Lulus sebagai Sarjana Muda. Tepat 3 tahun. Juga Fakultas Bahasa Inggris. Saat itu dia angkatan pertama.
“Dulu, tidak ada istilah IPK. Jadi ijazah aja, di belakang lembar ijazah itu tidak ada nilai,” paparnya. Tahun 1981 dia dinyatakan lulus.
Sesuai dengan background pendidikan, selepas kuliah dia mengabdi sebagai guru. Pernah bertugas di salah satu sekolah menengah kejuruan di Bandung. Sebelum mengajar Bahasa Inggris di SMA Kejuruan di Kota Cirebon.
Pada tahun 2007, dia memperoleh anugrah Strata 1 (S1) Sarjana Pendidikan dari Walikota Cirebon saat itu Subardi. Karena di tahun itu dia sudah mengajar selama 21 tahun. Dan umurnya saat itu 51 tahun.
Di tahun yang sama setelah memperoleh pengharagaan, Kholik memutuskan untuk pensiun dini. Ya, di usia 51 tahun. Dia memilih terjun ke bisnis properti di Jakarta.
“Soalnya saat itu, gaji dari mengajar selalu merasa kurang. Jadi banyak hutang,” ungkapnya. (Agus)














































































































Discussion about this post