KAB.CIREBON, (FC).- Perum Bulog Kantor Cabang Cirebon dinilai berhasil menjaga stabilitas harga gabah di tingkat petani melalui kebijakan penyerapan Gabah Kering Panen (GKP) sesuai Harga Pembelian Pemerintah (HPP) sebesar Rp6.500 per kilogram. Kebijakan ini disebut efektif menahan potensi anjloknya harga saat musim panen raya.
Kepala Perum Bulog Kantor Cabang Cirebon, Imam Mahdi, menegaskan bahwa penyerapan gabah sesuai HPP merupakan bentuk kehadiran negara dalam melindungi petani dari fluktuasi harga pasar.
“HPP adalah jaring pengaman agar petani tidak merugi saat harga pasar turun,” ujar Imam Mahdi, Kamis (25/6).
Ia menjelaskan, pada saat produksi gabah meningkat di musim panen raya, harga di pasar cenderung mengalami tekanan. Dalam kondisi tersebut, Bulog berperan sebagai penyangga dengan menyerap hasil panen petani agar harga tetap stabil dan petani memperoleh kepastian pendapatan.
“Negara hadir melalui Bulog untuk memastikan petani mendapatkan harga yang layak,” tegasnya.
Imam menambahkan, Bulog tidak berfungsi sebagai pesaing pedagang atau tengkulak, melainkan sebagai stabilisator pasar yang siap menyerap gabah ketika harga berada di bawah HPP.
Selain menjaga harga, mekanisme penyerapan gabah juga kini semakin mudah. Petani cukup melaporkan hasil panennya kepada Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) untuk didata, kemudian dijadwalkan proses penjemputan oleh Bulog. Pembayaran dapat dilakukan secara tunai maupun transfer.
“Petani hanya perlu berkoordinasi dengan PPL. Setelah itu gabah dijemput dan pembayaran dilakukan dengan cepat,” jelasnya.
Di lapangan, kebijakan ini dirasakan langsung oleh petani. Salah seorang petani di Kecamatan Gebang, Udin, mengaku harga gabah kini lebih stabil sejak Bulog aktif melakukan penyerapan sesuai HPP.
Sebelumnya, saat panen raya, tengkulak kerap membeli gabah dengan harga rendah sehingga merugikan petani yang telah mengeluarkan biaya produksi cukup besar.
“Sekarang setelah Bulog membeli dengan HPP Rp6.500 per kilogram, harga jadi lebih stabil,” kata Udin.
Menurutnya, keberadaan Bulog juga mendorong persaingan harga yang lebih sehat. Para tengkulak kini harus menawarkan harga lebih tinggi jika ingin mendapatkan gabah dari petani.
“Kalau mau beli gabah kami, tengkulak harus berani di atas harga Bulog,” ujarnya.
Udin menyebutkan, harga yang ditawarkan tengkulak saat ini berkisar antara Rp6.800 hingga Rp7.000 per kilogram. Selisih harga tersebut cukup membantu petani dalam menutup biaya produksi dan modal tanam berikutnya.
“Selisih itu sangat membantu untuk biaya produksi dan modal tanam,” tuturnya.
Meski demikian, ia mengakui Bulog memiliki standar kualitas tertentu yang harus dipenuhi, seperti kadar air, tingkat kekeringan, dan kebersihan gabah. Jika tidak memenuhi standar, harga bisa disesuaikan atau gabah tidak diterima.
“Kalau ke Bulog harus sesuai standar. Kalau tidak, bisa dipotong atau tidak diterima. Tapi ke tengkulak lebih fleksibel,” ungkapnya.
Faktor kecepatan pembayaran juga menjadi pertimbangan petani. Sistem pembayaran langsung setelah panen dinilai membantu perputaran modal untuk kebutuhan keluarga maupun persiapan musim tanam berikutnya.
“Langsung ditimbang dan dibayar, jadi modal bisa cepat diputar lagi,” tambah Udin.
Meski sebagian petani tetap memilih menjual ke tengkulak ketika harga pasar lebih tinggi, Bulog menilai kondisi tersebut tetap positif. Hal itu menunjukkan bahwa mekanisme pasar berjalan sehat dan kompetitif.
“Jika harga pasar di atas HPP, petani bebas memilih pembeli terbaik. Bulog tetap hadir sebagai penyangga ketika harga turun,” pungkas Imam Mahdi.
Dengan peran tersebut, Bulog dinilai tetap menjadi instrumen penting dalam menjaga keseimbangan harga gabah, sekaligus memastikan kesejahteraan petani tetap terlindungi di tengah dinamika pasar pertanian. (Nawawi)











































































































Discussion about this post