MAJALENGKA, (FC).- Aksi unjuk rasa puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Majalengka di Jalan Provinsi Majalengka Kota sempat memanas, setelah demonstran membakar sebuah ban bekas yang sempat dihalangi petugas. Kendati demikian aksi unjuk rasa berakhir damai, Selasa (6/9).
Petugas kepolisian pun tak bisa berbuat banyak dan pembakaran ban pun terjadi. Puluhan mahasiswa itu melakukan aksi melingkar di tengah-tengah ban yang terbakar. Mereka terus melakukan orasi hingga dihadiri oleh sejumlah anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Majalengka.
Ban yang terbakar di tengah-tengah demonstran, membuat asap terhirup ke sejumlah peserta aksi. Akibatnya, ada salah satu pengunjuk rasa yang pingsan.
“Ini gara-gara kebanyakan menghirup asap ban,” ujar Misbahul Munir, Ketua PC PMII Majalengka, Selasa (6/9).
Pingsannya seorang demonstran, membuat petugas kepolisian pun sigap membantu. Seorang mahasiswa yang pingsan langsung dibawa menuju pinggir jalan dengan diberi alat bantu oksigen dan minum. Setelah itu, demonstran tersebut langsung ditandu pulang dengan teman lainnya.
Sementara dalam unjuk rasa tersebut, sedikitnya ada empat tuntutan yang disampaikan puluhan mahasiswa kepada anggota DPRD Majalengka. Salah satunya, menolak secara tegas kenaikkan harga BBM bersubsidi.
“Ya ada 4 aspirasi yang disampaikan dalam unjuk rasa kali ini, pertama menolak secara tegas kenaikkan harga BBM bersubsidi. Lalu mendesak pemerintah untuk segera menerapkan kebijakan subsidi tepat sasaran, mendorong pemerintah untuk membuka keterlibatan masyarakat dalam pelaksanaan penyaluran BBM bersubsidi. Kemudian mendesak pemerintah daerah untuk melanjutkan aspirasi kepada pemerintah pusat,” ucapnya.
Masih kata Misbahul, keputusan pemerintah untuk menaikkan BBM bersubsidi dianggap menjadi polemik besar di tengah masyarakat. Sebab dampaknya akan berimbas kepada masyarakat kecil, dan hal ini menunjukkan bahwa pemerintah sudah tidak selaras lagi dengan apa yang sudah menjadi wacana pemerintah dalam menyelesaikan pemulihan ekonomi dampak Covid-19 yang masih belum sepenuhnya usai.
“Kenaikkan BBM akan berdampak terhadap multiaspek, karena kebutuhan primer negara untuk menghidupi kehidupan masyarakat, salah satunya dengan sumber energi, dengan dinaikkannya BBM bersubsidi ini. Maka jelas dengan dinaikkannya BBM ini akan mempengaruhi inflasi secara umum yang akan menghantam berbagai aspek harga-harga kebutuhan dasar masyarakat yang mengakibatkan semakin tingginya jumlah kemiskinan di Indonesia,” jelas dia.
Sementara itu, Ketua DPRD Kabupaten Majalengka H. Edi Anas Junaedi yang menemui puluhan mahasiswa mengatakan, selaku wakil rakyat dirinya akan menampung tuntutan yang disampaikan para mahasiswa, khususnya penolakan kenaikan BBM bersubsidi.
Namun, kata dia, karena ini keputusan pusat maka pihaknya akan segera menyampaikan tuntutan tersebut kepada pemerintahan pusat.
“Akan kami sampaikan semua tuntutan adik-adik mahasiswa kepada pemerintahan pusat, karena kenaikan BBM bersubsidi adalah kebijakan pemerintahan pusat,” ujar Ketua Dewan. (Munadi)















































































































Discussion about this post