MAJALENGKA, (FC).- Sejak dahulu, lumbung padi atau yang dikenal dengan sebutan lumbung pangan bisa dijumpai di peloksok desa.
Dengan hadirnya lumbung pangan tersebut, maka gotong royong masyarakat di pedesaan akan semakin nampak dalam hal membantu masyarakat yang kurang mampu agar mereka bisa bertahan hidup.
Namun seiring berjalannya waktu, lumbung pangan yang ada di desa-desa atau di perkampungan saat ini sudah hampir tidak diketemukan lagi.
Bahkan lumbung pangan tersebut mulai tergusur oleh kehadiran bank atau koperasi dalam hal pemberian pinjaman untuk modal usaha.
Namun ada lumbung pangan yang sampai saat ini masih tetap kokoh berdiri dan terus memberikan modal usaha bagi masyarakat di lingkungannya.
Lumbung pangan tersebut bernama “Lumbung Pangan Masyarakat Mulyasari” dan berdiri sejak tahun 1960.
Berkantor di Balai Kampung Leuwimukti Desa Ligung Kecamatan Ligung Kabupaten Majalengka, lumbung pangan masyarakat Mulyasari dirintis oleh seorang Lurah atau Kadus bernama Rayani pada tahun 1960 dengan modal awal yang cukup minim.
Namun berkat keuletan para pengurus, kini lumbung pangan masyarakat Mulyasari mempunyai aset padi kering giling sebanyak 13 ton.
Tata Casmita selaku ketua lumbung pangan masyarakat Mulyasari kepada wartawan mengatakan, lumbung pangan ini berdiri sejak 1960, dan sampai saat ini masih bertahan dan tetap memberikan modal usaha kepada masyarakat di Blok Leuwimukti Desa Ligung yang membutuhkan.
Dikatakan Tata Casmita, sistem perputaran usaha di lumbung pangan ini adalah, setiap masyarakat dipersilakan memimjam modal usaha namun tidak berbentuk uang.
Pihak pengelola memberikan pinjaman modal usaha berupa padi kering giling dengan aturan yang sudah disepakati bersama.
“Jadi setiap musim paceklik masyarakat diperbolehkan pinjam modal usaha berupa gabah kering, dengan catatan bayar di waktu panen tiba. Sistemnya meminjam 1 kwital kembalinya yakni 1 kwintal 30 kg. Terkait kelebihannya yang 30 kg tersebut untuk cadangan penyusutan, biaya operasional dan pengembangan usaha,” ucap Tata Casmita kepada wartawan, Rabu (11/8).
Masih menurut Tata Casmita yang juga saat ini menjabat Kadus Leuwimukti, bertahannya lumbung pangan di wilayahnya berkat kesadaran masyarakat dalam pengembalian modal usaha.
Sehingga aset lumbung pangan ini setiap tahun semakin meningkat.
“Di Blok Leuwimukti 90 persen masyarakatnya petani, sehingga kehadiran lumbung pangan yang sistim perputaran modalnya menggunakan padi dan bukan uang kas, maka masyarakat juga semakin terbantu. Pinjam padi bayarnya juga padi sehingga tidak ada yang dirugikan,” pungkas Kadus Bonjor sapaan akrabnya.
Terpisah, Kades Ligung Lor, Gunawan LA membenarkan, bahwa di desanya masih berdiri kokoh lumbung pangan milik warga, yakni berada di Blok Leuwimukti.
Bertahannya lumbung pangan tersebut karena masyarakatnya mayoritas petani sehingga kehadiran lumbung pangan dirasa cukup membantu bagi warga disana.
“Ya kayanya lumbung pangan masyarakat Mulyasari, satu satunya lumbung pangan di Kecamatan Ligung yang sampai saat ini tetap kokoh berdiri dan selalu memberikan modal usaha bagi warga disekitarnya. Di desa-desa lain lumbung pangan sudah punah dan tergusur oleh kehadiran bank dan koperasi,” ucap Kades Gunawan.
Pihaknya sangat mengapresiasi kepada masyarakat dan pengurus yang sampai saat ini mempertahankan keberadaan lumbung pangan. (Munadi)













































































































Discussion about this post