KAB. CIREBON, (FC).- Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Air Minum Tirta Jati Kabupaten Cirebon mengaku, hingga saat ini belum muncul adanya gangguan pasokan pelayanan kepada pelanggan, meskipun bulan ini telah memasuki puncak musim kemarau.
Pasalnya musim kemarau tahun ini berbeda dengan musim kemarau tahun lalu.
Direktur Utama (Dirut) Perumda Tirta Jati Kabupaten Cirebon, H Suharyadi mengatakan, untuk mengantisipasi penurunan air baku saat musim kemarau, pihaknya sudah menyiapkan beberapa langkah, diantaranya mencari tambahan sumber air baku.
Namun jika tetap ada penurunan drastis, maka langkah terakhir adalah menerapkan pelayanan sistem zona atau sistem gilir.
“Tapi layanan sistem gilir itu baru akan diterapkan. Kalau debit air benar-benar mengalami penurunan yang signifikan,” kata Suharyadi saat meninjau Water Treatmen Plant (WTP) Babadan di Desa Babadan, Kecamatan Gunungjati, Kabupaten Cirebon, Kamis (24/9).
Dikatakan Suharyadi, saat ini produksi air minum yang dikelola oleh pihaknya sebesar 630 liter per detik. Namun, kemarau saat ini hanya mengalami penurunan sebesar 10 liter perdetik saja.
“Pelanggan kami sebesar 38 ribu lebih, seluruhnya masih mampu dilayani dengan baik. Kemarau tahun ini tidak separah dengan tahun sebelumnya,” kata Suharyadi.
Suharyadi pun mengatakan, faktor lainnya yang membuat pelayanan kepada pelanggan sampai saat ini belum terganggu yakni proses perbaikan bendung karet di Kecamatan Gunung Jati telah selesai, pelayanan pun prima terutama di wilayah bagian utara.
“Tahun lalu, terganggu saat bendung karet bocor, sehingga saat air laut pasang masuk ke dalam pipa sambungan. Tahun 2020 ini tidak akan ada lagi. Kalau pun ada gangguan, kami bakal terapkan giliran, sehingga semua pelayanan tidak terganggu,” katanya.
Begitupun dengan air di pengolahan WTP Babadan, ia menjelaskan, air baku dari sungai Jamblang masih bisa menyuply hingga kapasitas 100 liter per detik. Sehingga, pengolahan air dengan sistem pompa tersebut masih bisa melayani ribuan pelanggan melalui beberapa cabang di wilayah tersebut.
Bahkan, WTP yang dibangun sejak tahun 2014 itu juga masih bisa melayani RS Pertamina dan perkantoran di wilayah Klayan.
Untuk menjaga kualitas air tetap baik sampai ke konsumen, Permuda Tirta Jati juga intens melakukan perawatan secara berkala. Perawatan dilakukan dengan cara menguras emtek dan reservoar setiap satu bulan sekali.
“Saat melakukan pengurasan di reservoar, kita lakukan untuk wash out. Ketika air dikuras kan kotor, kita buang sebelum kita distribusikan kepelanggan. Tapi dengan kondisi kemarau dan air baku sungai ini sulit diproduksi, maka kami lakukan pengurasannya 2 sampai 3 kali satu bulan, untuk menjaga kualitas air,” katanya.
Untuk mencapai cakupan layanan sebesar 80 persen, kata Suharyadi, harapan terbesarnya adalah dari Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) regional Jatigede di Kabupaten Sumedang yang akan selesai pada 2023.
Ia menambahkan, SPAM regional Jatigede tersebut nantinya bekerjasama dengan lima PDAM di wilayah sekitar. Fasilitas itu pun, menghasilkan 950 liter perdetik.
“Nantinya kami menyediakan pipa optik, sehingga 80 persen bisa beroperasi. Untuk saat ini, peningkatan cakupan layanan sekarang mengandalkan laba tahunan supaya meningkatkan infrastruktur,” katanya. (Ghofar)
















































































































Discussion about this post