KUNINGAN, (FC).- Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (Diskatan) Kabupaten Kuningan bergerak cepat melakukan pengendalian hama penggerek batang padi setelah intensitas serangan di sejumlah lahan pertanian mencapai 10 hingga 18 persen.
Langkah antisipatif tersebut dilakukan melalui Gerakan Pengendalian (Gerdal) hama penggerek batang di areal persawahan Kelompok Tani Kalimati, Desa Cipakem, Kecamatan Maleber, Rabu (6/5), dengan cakupan pengendalian seluas 20 hektare.
Tanaman padi yang menjadi sasaran pengendalian merupakan varietas Inpari, Ciherang, serta varietas lokal dengan umur tanaman 21 hingga 35 hari setelah tanam (HST).
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Kuningan, Wahyu Hidayah, turun langsung memimpin kegiatan bersama Kepala Brigade Proteksi Tanaman Pangan Yudi Prayudi, petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT), penyuluh pertanian, dan petani setempat.
Menurut Wahyu, pengendalian hama harus dilakukan secara cepat dan terpadu agar serangan tidak meluas serta tidak mengganggu produktivitas padi pada musim tanam 2026.
“Pengendalian penggerek batang pada fase vegetatif awal harus dilakukan secara terpadu. Kami mendorong petani untuk rutin melakukan pengamatan, menjaga keseimbangan ekosistem, serta memanfaatkan musuh alami sebelum intervensi kimia dilakukan,” ujarnya.
Ia menjelaskan, penggunaan insektisida tetap dilakukan sebagai bagian dari strategi pengendalian. Namun penerapannya harus selektif dan sesuai prinsip enam tepat, yakni tepat jenis, dosis, waktu, sasaran, cara, dan mutu.
Selain pengendalian kimia, Diskatan juga menerapkan langkah mekanis dan kultur teknis seperti pengaturan air secara intermiten, sanitasi lahan, hingga pencabutan tanaman terserang guna memutus siklus perkembangan hama.
Berdasarkan hasil pengamatan lapangan, keberadaan musuh alami seperti Lycosa sp dan Paederus sp dinilai cukup potensial dalam membantu menekan populasi hama secara alami.
Wahyu menegaskan, pengendalian tidak berhenti pada pelaksanaan Gerdal semata, tetapi harus disertai monitoring berkelanjutan sebagai sistem peringatan dini di lapangan.
“Pengamatan pasca-pengendalian menjadi kunci agar serangan tidak meluas dan dapat dikendalikan sejak dini,” katanya.
Kegiatan tersebut juga dihadiri Camat Maleber H. Diding Wahyudin serta Kepala Desa Cipakem Uci Sanusi sebagai bentuk dukungan pemerintah wilayah terhadap upaya pengamanan produksi pertanian.
Diskatan Kuningan optimistis langkah pengendalian berbasis ekosistem yang dilakukan secara terpadu mampu menekan potensi kehilangan hasil panen sekaligus menjaga ketahanan pangan daerah di tengah ancaman perubahan iklim dan serangan organisme pengganggu tanaman. (Angga)











































































































Discussion about this post