KOTA CIREBON, (FC).- Kasus campak di Kota Cirebon sudah masuk menjadi Kejadian Luar Biasa (KLB) dan menunjukkan dinamika baru yang patut diwaspadai.
Jika selama ini identik menyerang balita, kini infeksi virus tersebut juga mulai ditemukan pada kelompok remaja, termasuk yang telah mendapatkan vaksinasi.
Dokter spesialis anak RSD Gunung Jati, dr. Suci Saptyuni Permadi mengungkapkan tren ini mulai terlihat dalam beberapa waktu terakhir. Remaja usia 15 hingga 17 tahun tercatat ikut terinfeksi, umumnya tertular dari anggota keluarga terdekat.
“Penularannya banyak terjadi dari adik yang masih bayi, terutama yang belum mendapatkan imunisasi,” ujar dr. Suci saat ditemui di RSD Gunung Jati, Sabtu (18/4).
Menurutnya, vaksinasi memang memberikan perlindungan, namun bukan berarti sepenuhnya kebal. Dalam kondisi paparan virus yang tinggi, seperti di lingkungan keluarga, infeksi tetap bisa terjadi meski biasanya dengan gejala lebih ringan.
“Kondisi tersebut tetap memerlukan perhatian medis. Remaja yang terinfeksi tetap harus mendapatkan penanganan, terutama jika mengalami demam tinggi atau penurunan nafsu makan,” katanya.
Peningkatan kasus campak di Kota Cirebon mulai terlihat sejak awal 2026. Pada Januari saja, jumlah kasus melonjak menjadi 26, jauh dibandingkan Desember tahun sebelumnya yang hanya delapan kasus.
Fenomena ini dipicu oleh pola penularan berantai yang terjadi setelah masa inkubasi virus. Pasien yang telah sembuh dan kembali ke lingkungan rumah berpotensi menularkan kepada orang di sekitarnya dalam rentang waktu 10 hingga 12 hari.
Akibatnya, kasus baru terus bermunculan dalam waktu berdekatan, baik di lingkungan keluarga maupun masyarakat sekitar.
Selain faktor penularan berantai, tingginya mobilitas masyarakat, khususnya saat momen mudik, turut mempercepat penyebaran campak.
Dalam sejumlah kasus, anak yang sudah menunjukkan gejala awal seperti demam tetap dibawa bepergian. Tanpa disadari, kondisi tersebut memicu penularan luas ketika berinteraksi dengan banyak orang.
“Awalnya hanya demam, belum tentu langsung teridentifikasi campak. Tapi saat berkumpul dengan keluarga besar, penularannya jadi cepat,” jelas dr. Suci.
Masyarakat diminta lebih waspada terhadap ciri khas campak agar tidak terlambat dalam penanganan. Salah satu tanda yang membedakan adalah demam yang justru meningkat saat ruam merah mulai muncul.
Ruam biasanya diawali dari belakang telinga, lalu menyebar ke seluruh tubuh. Kondisi ini disertai demam tinggi yang dapat berlangsung selama dua hingga tiga hari sebelum akhirnya mereda.
Sementara, Direktur RSD Gunung Jati, dr. Katibi menyebut rumah sakitnya menjadi rujukan utama penanganan campak di wilayah Cirebon.
Dalam periode Januari hingga Maret 2026, sekitar 50 pasien harus menjalani perawatan, dengan mayoritas datang melalui Instalasi Gawat Darurat (IGD).
“Kalau yang dirawat di rumah sakit saja sebanyak itu, kemungkinan kasus di masyarakat sebenarnya jauh lebih besar,” ujarnya.
Lebih jauh, sejumlah pasien datang dalam kondisi berat dan mengalami komplikasi serius, seperti bronkopneumonia, otitis media, sepsis, hingga gangguan pada otak dan jantung.
Beberapa di antaranya bahkan harus dirawat di ruang intensif. Tercatat empat pasien sempat dalam kondisi kritis, dan dua kasus berujung kematian. Keduanya diketahui belum mendapatkan imunisasi lengkap serta memiliki penyakit penyerta.
Melihat perkembangan tersebut, tenaga medis menekankan pentingnya imunisasi sebagai langkah utama pencegahan. Anak-anak dianjurkan mengikuti jadwal imunisasi sejak usia 9 bulan hingga kurang dari 15 tahun.
Selain itu, isolasi mandiri bagi pasien yang terinfeksi juga menjadi kunci untuk memutus rantai penularan.
“Campak bukan penyakit ringan. Virus ini bisa menyerang berbagai organ tubuh, sehingga penanganannya harus serius,” tandasnya. (Agus)








































































































Discussion about this post