MAJALENGKA, (FC).– Musim kemarau identik dengan langit cerah dan hembusan angin kencang. Kondisi ini menjadi momen yang dinanti para pecinta layang-layang di Kabupaten Majalengka.
Tak hanya anak-anak, para remaja hingga orang dewasa pun ramai-ramai kembali memainkan permainan tradisional ini, menjadikannya primadona hiburan lintas generasi.
Di berbagai lapangan terbuka dan persawahan yang mengering, pemandangan langit penuh warna-warni layang – layang menjadi tontonan yang menghibur.
Suara dengung tali dan gemuruh sorak-sorai terdengar riuh saat layang – layang saling adu kekuatan di udara. Antusiasme masyarakat terhadap permainan ini menunjukkan bahwa layangan bukan sekadar permainan masa kecil, tetapi juga sarana hiburan, rekreasi, bahkan ajang silaturahmi antar warga.
Fenomena ini juga menjadi ajang silaturahmi antar warga, bahkan di beberapa titik digelar kompetisi layangan yang menyatukan pemain dari berbagai desa dan kecamatan di wilayah Kabupaten Majalengka.
Bagi sebagian warga, bermain layangan menjadi cara untuk melepas penat dari aktivitas harian. Sementara bagi lainnya, permainan ini menjadi pengingat nostalgia masa kecil yang kini kembali hidup bersama anak-anak mereka.
Antusiasme ini tidak hanya terlihat dari keramaian, tapi juga dari komentar para warga yang turut menikmati tradisi tersebut.
“Dari kecil saya memang suka main layangan. Sekarang anak saya juga ikut-ikutan, jadi bisa main bareng. Ini bukan cuma permainan, tapi sudah jadi bagian dari hidup kami di kampung,” ujar Dio warga Desa Wanasalam Kecamatan Ligung, Senin (28/7).
Sementara itu, Ratna seorang ibu rumah tangga yang menonton anaknya bermain, mengaku senang permainan tradisional masih diminati.
“Daripada main gadget terus, mending anak-anak main layangan. Lebih sehat dan bisa bersosialisasi,” ungkapnya.
Meski demikian, aparat setempat tetap mengimbau agar permainan ini dilakukan di tempat yang aman, jauh dari jaringan listrik dan jalan raya, demi mencegah hal-hal yang tidak diinginkan.
Dengan segala keunikannya, layangan kembali membuktikan daya tariknya sebagai warisan budaya permainan tradisional yang tetap relevan di tengah arus digitalisasi.
Fenomena ini juga menjadi ajang silaturahmi antar warga, bahkan di beberapa titik digelar kompetisi layangan yang menyatukan pemain dari berbagai desa dan kecamatan di wilayah Kabupaten Majalengka. (Munadi)













































































































Discussion about this post