KOTA CIREBON, (FC).- Wakapolda Jabar, Brigjen Adi Vivid Agustiadi Bachtiar meninjau perbaikan rumah tidak layak huni (rutilahu) di wilayah Perumnas Larangan Utara, Kota Cirebon, Jumat (6/3/2026).
Dalam kunjungan tersebut, Wakapolda Jabar membagikan bantuan sembako kepada pemilik rumah serta sejumlah warga yang hadir. Paket sembako yang diberikan berisi kopi kemasan satu bungkus, lima bungkus mie instan, minyak goreng satu liter, susu 535 gram satu bungkus, satu kotak teh, tepung terigu satu kilogram, beras lima kilogram, dan gula pasir satu kilogram.
Namun, pantauan di lapangan kunjungan tersebut berlangsung singkat. Padahal, Warga telah sabar menunggu sekitar tiga jam dan tidak ada sambutan ataupun dialog khusus dengan masyarakat. Wakapolda Jabar hanya sempat menanyakan kabar kepada beberapa warga sebelum meninggalkan lokasi.
Salah satu warga yang enggan disebutkan namanya mengatakan bantuan sembako yang diterimanya diperkirakan hanya cukup untuk kebutuhan keluarganya selama sekitar satu minggu.
“Paling ya seminggu ya, karena di rumah saya kan empat orang jadi lumayan,” ujarnya.
Meski demikian, ia tetap mengucapkan terima kasih atas bantuan sembako yang diberikan.
“Makasih pak wakapolda, lancar terus rezekinya ya,” ucapnya.
Kedatangan Wakapolda Jabar ke kawasan Perumnas Larangan Utara tersebut berkaitan dengan rampungnya perbaikan salah satu rumah warga penerima bantuan rutilahu yang diajukan oleh komunitas Generasi Milenial Cirebon.
Rumah tersebut milik pasangan Mochamad Toha dan Yuliarti. Meski dinyatakan telah selesai diperbaiki, bagian yang dikerjakan hanya satu ruangan, yakni perbaikan beberapa ruas tembok bagian depan serta atap ruang tamu.
Sementara bagian dalam rumah yang menjadi tempat berkumpul keluarga dan area memasak masih dalam kondisi lama.
Selain itu, perubahan yang mencolok adalah cat dinding yang kini berwarna coklat tua yang menjadi simbol seragam dinas Polri.
Yuliarti mengaku terkejut rumahnya dipilih sebagai penerima bantuan perbaikan. Ia mengatakan sebelumnya diberi kabar oleh Alpin Alghani dari Generasi Milenial Cirebon bahwa rumahnya akan diperbaiki.
“Gak nyangka saja, karena awalnya saya dikasih tahu sama Mas Alpin kalau rumahnya mau diperbaiki,” tuturnya.
Ia juga menceritakan bahwa pada 2023 rumahnya sempat didatangi beberapa orang yang memotret kondisi bangunan dan menjanjikan perbaikan, namun tidak pernah terealisasi.
“Saya dari tahun 1993 tinggal di sini dan belum ada perbaikan. Tahun 2023 sempat ada yang foto rumah katanya mau diperbaiki, tapi sampai sebelum Mas Alpin bilang pak Wakapolda mau membantu, tidak ada perbaikan,” ungkapnya.
Selama puluhan tahun tinggal di rumah tersebut, pasangan Toha dan Yuliarti mengaku tidak memiliki cukup penghasilan untuk memperbaiki rumah.
Yuliarti merupakan ibu rumah tangga, sementara Toha bekerja sebagai buruh harian lepas yang hanya memperoleh penghasilan ketika ada pekerjaan.
Mengetahui kondisi tersebut, Ketua Generasi Milenial Cirebon, Alpin Alghani, mengaku tergerak untuk membantu. Ia kemudian berkoordinasi dengan pembina komunitas, Reza Acuy, untuk mengajukan bantuan perbaikan rumah.
Menurut Alpin, setelah mendapatkan izin dari Wakapolda Jabar, proses perbaikan rumah langsung dilakukan.
“Awalnya saya diminta mencari rumah yang benar-benar tidak layak huni. Setelah melihat kondisi rumah Pak Toha yang sangat memprihatinkan, langsung kami ajukan dan beberapa jam kemudian disetujui,” ujarnya.
Ia menambahkan, proses perbaikan dilakukan selama tiga hari secara non-stop oleh para pekerja.
“Pekerjaannya tiga hari dari pagi sampai malam, bahkan sampai jam 12 malam. Yang diperbaiki terutama bagian atap, rangka, usuk, serta beberapa tembok yang sudah rusak,” tambahnya.
Pemilihan rumah milik Toha, kata Alpin, didasarkan pada kondisi bangunan yang dinilai paling memprihatinkan di antara beberapa rumah yang sempat disurvei. (Agus)










































































































Discussion about this post