KOTA CIREBON, (FC).- Kejadian Luar Biasa (KLB) kasus Campak di Kota Cirebon, membuat stakeholder terkait harus bersiaga dan siap menangani masyarakat yang terkena penyakit yang mudah menular ini.
Termasuk Rumah Sakit Daerah (RSD) Gunung Jati Kota Cirebon, yang sudah berperan sebagai rumah sakit rujukan utama di wilayah Jawa Barat bagian timur utara, dalam menangani berbagai kasus penyakit, termasuk campak yang masih ditemukan sepanjang akhir Tahun 2025 yang lalu.
Direktur RSD Gunung Jati Kota Cirebon, dr. Katibi membeberkan, RSD Gunung Jati saat ini menjadi pusat rujukan bagi sejumlah wilayah, meliputi Kota dan Kabupaten Cirebon, Kabupaten Kuningan, Indramayu, hingga Majalengka.
Bahkan, tidak sedikit pasien yang datang dari luar provinsi seperti Kabupaten Brebes dan Kabupaten Tegal, Jawa Tengah.
“RSD Gunung Jati ini merupakan rumah sakit rujukan untuk wilayah Ciayumajakuning. Dalam konteks penyakit campak, kami berada pada posisi menerima rujukan dari berbagai fasilitas kesehatan tingkat pertama,” ujar dr. Katibi, Jumat (17/4).
Ia memaparkan, pasien campak yang dirujuk ke RSD Gunung Jati umumnya masuk melalui dua jalur layanan, yakni Instalasi Gawat Darurat (IGD) dan pelayanan rawat jalan. Dari data yang dihimpun selama tiga bulan terakhir, jumlah pasien menunjukkan fluktuasi.
Pada layanan rawat jalan, tercatat tiga pasien pada Januari, tidak ada kasus pada Februari, dan dua pasien pada Maret 2026. Sementara itu, pada periode 1 hingga 16 April 2026, jumlah pasien rawat jalan mencapai sekitar enam orang.
Berbeda dengan rawat jalan, jumlah pasien yang masuk melalui IGD cenderung lebih tinggi. Pada Januari terdapat 26 kasus, Februari 19 kasus, dan Maret sebanyak lima kasus.
Secara keseluruhan, hingga akhir Maret 2026, tercatat puluhan pasien campak yang harus menjalani perawatan inap di RSD Gunung Jati.
“Kalau yang sudah sampai ke rumah sakit rujukan saja jumlahnya cukup banyak, maka bisa diperkirakan kasus di tingkat puskesmas atau fasilitas kesehatan pertama, bahkan di masyarakat, jumlahnya bisa lebih besar,” jelas dr. Katibi.
Menyikapi kondisi tersebut, pihak rumah sakit memastikan kesiapan dalam menangani pasien, baik dari sisi sumber daya manusia (SDM) maupun sarana dan prasarana. Penanganan dilakukan secara menyeluruh, mulai dari layanan IGD, rawat jalan, hingga perawatan inap.
“Kami terus menyiapkan tata laksana yang memadai agar pelayanan kepada pasien, khususnya kasus campak, dapat berjalan optimal,” pungkasnya. (Agus)












































































































Discussion about this post