Oleh: Dwi Hatmojo Danurdoro, S.Ds., M.T
Dosen Program Studi Desain Interior, Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Teknologi Bandung
Kabupaten Cirebon merupakan daerah dengan skala indeks multibencana 181, angka tersebut termasuk kedalam kelas risiko tinggi, salah satunya adalah bencana banjir. Tercatat 31 kejadian banjir dalam rentang tahun 2015-2018 dari total 69 kejadian bencana (Nur Ismi, Safitri, dan Fardani, 2020).
Fakta ini mendasari kami untuk mengambil Kabupaten Cirebon sebagai kawasan studi. Kegiatan ini diawali pada Agustus 2021 dimana tim penelitian kami melakukan korespondensi dengan perwakilan BPBD Kab. Cirebon, yakni bapak Siaga Pratama, dengan tokoh organisasi kebencanaan Petakala Grage, yakni bapak Dedy Madjmoe. Melalui diskusi, kami direkomendasikan untuk mengambil wilayah studi Desa Cilengkrang, Kec. Pasaleman.
Desa Cilengkrang dikelilingi oleh sungai Cisanggarung dan Cijangkelok yang kemudian dianggap sebagai salah satu sumber banjir. Pada tahun 2018, terjadi peristiwa banjir besar di kawasan tersebut, tidak kurang dari 800 rumah terdampak hingga memberi pengaruh traumatis pada warga, selain tentunya dampak ekonomi. Selain kejadian tersebut, peristiwa banjir yang relatif kecil sudah merupakan agenda tahunan.
Pada bulan November 2021, tim kami melakukan observasi lapangan ke Desa Cilengkrang. Melalui bantuan aparat desa diwakili bapak Nana selaku sekretaris desa, kami melakukan survey dan diskusi dengan sejumah warga. Kegiatan ini bertujuan menganalisis bagaimana warga Desa Cilengkrang bertahan dan beradapatasi dengan fenomena banjir.
Kunjungan lapangan yang kami lakukan memberikan informasi bahwa masyarakat melakukan berbagai upaya untuk mengantisipasi banjir, baik dalam bentuk program desa maupun swadaya, dan dalam bentuk fasilitas bersama, maupun lingkup rumah pribadi. Setelah kejadian banjir besar pada tahun 2018, masyarakat Desa Cilengkrang mulai melakukan adaptasi fisik.
Dalam skala publik, warga desa membuat fasilitas bale yang cukup tinggi (+ 1,5 meter dari tanah) sebagai area aman ketika banjir tiba. Dengan tujuan meningkatkan awareness warga, ditempatkan juga beberapa rambu terkait bahaya banjir. Dalam skala yang lebih privat yakni rumah tinggal, hal yang paling banyak dilakukan adalah dengan meninggikan level lantai.
Selain itu, penghuni juga membuat fasilitas penyimpanan barang dengan ketinggian tertentu yang dinilai aman. Klasifikasi adaptasi fisik tentunya juga dipengaruhi kemampuan ekonomi, beberapa penghuni memutuskan untuk menambah lantai ke atas untuk area ungsi darurat.
Kami menguraikan jenis-jenis adaptasi fisik menjadi 7 jenis, diantaranya adalah : 1) Peninggian lantai teras rumah; 2) Peninggian lantai dalam rumah; 3) Pembuatan rak (mezanin) sederhana; 4) Penambahan jumlah lantai; 5) Pembuatan tanggul depan rumah; 6)Pembuatan bale panggung depan rumah; 7)Pemberian signage waspada banjir.
Perilaku antisipatif dan adaptif yang dilakukan oleh warga Desa Cilengkrang dalam konteks teoritik terkategori sebagai bentuk resiliensi. P.W. Newton & P.Doherty (2014) dalam artikelnya mendefinisikan resiliensi sebagai kapasitas sistem urban untuk berkompromi dengan perubahan, belajar dari situasi yang sulit, dan memposisikan diri untuk bangkit (rebound) setelah mengalami tekanan peristiwa yang signifikan.
Bentuk-bentuk adaptasi fisik tersebut juga terkonfirmasi oleh beberapa studi serupa yang telah dilakukan sebelumnya pada wilayah rawan banjir. Studi sebelumnya yang dilakukan di Desa Bojongloa, Kec.Rancaekek, Jawa Barat (Habiba et al, 2017); Kec.Bejeng, Kab.Gresik, Jawa Timur (Almuthorri, 2018); Kec.Pekalongan Utara, Jawa Tengah (Adlina et al, 2019); dan di Kp.Rejosari, Sayung, Demak, Jawa Tengah (Prawitasari et al, 2020) memperlihatkan upaya-upaya yang dilakukan warga untuk mengantisipasi kemungkinan datangnya banjir.
Kegiatan ini dapat dikatakan sebagai obsservasi dan studi awal, melalui kegiatan ini kami telah sedikit banyak menghimpun data dan informasi sehingga memperoleh gambaran mengenai fenomena banjir dan bentuk respon dari masyarakat. Kelanjutan dari kegiatan ini diharapkan dapat merumuskan hal-hal implementatif yang secara praktis berkontribusi dalam mengurangi dampak negatif banjir di Kab.Cirebon, maupun kawasan rawan banjir lainnya di Indonesia.***











































































































Discussion about this post