KOTA CIREBON, (FC).- Berwisata ke Cirebon, Jawa Barat, Anda jangan lupa untuk mampir ke Masjid Agung Sang Cipta Rasa yang berusia 500 tahun dan masih menyimpan tradisi langka.
Di tengah sejarah panjang Kota Cirebon, Jawa Barat, terdapat tradisi unik di Masjid Agung Sang Cipta Rasa yang hingga kini masih terjaga dengan baik.
Bahkan, setiap Jumat, azan dikumandangkan oleh tujuh muazin secara bersamaan, menciptakan pengalaman spiritual berbeda dan menjadi ciri khas masjid ini yang tidak ditemukan di tempat lain.
Masjid yang berada di lingkungan Keraton Kasepuhan Cirebon ini merupakan salah satu peninggalan penting dalam sejarah penyebaran Islam di Tanah Jawa. Masjid tersebut didirikan pada 1480 Masehi oleh Sunan Gunung Jati atau Syekh Syarif Hidayatullah.
Patih Keraton Kasepuhan, Pangeran Raja Gumilar Soeryadiningrat menjelaskan, Masjid Agung Sang Cipta Rasa menjadi bukti peradaban Islam di wilayah Jawa Barat, Jakarta, dan Banten.
“Masjid ini didirikan Sunan Gunung Jati pada 1480 Masehi dan menjadi pusat penyebaran syiar Islam di wilayah barat Pulau Jawa,” ujar Pangeran Raja Gumilar Soeryadiningrat kepada wartawan, Jumat (20/2/2026).
Bangunan masjid dirancang Sunan Kalijaga dengan bentuk menyerupai pendopo Jawa. Nama “Sang Cipta Rasa” memiliki makna mendalam yaitu “Sang” berarti keagungan, lalu untuk “Cipta” berarti dibangun, dan “Rasa” yang berarti digunakan, mencerminkan fungsi masjid sebagai tempat spiritual hidup bagi masyarakat.
Selain tradisi azan tujuh muazin, arsitektur masjid juga memukau karena memadukan unsur Majapahit, Tiongkok, dan Portugis. Detail ini terlihat pada ruang salat hingga tiang penyangga yang kokoh.
“Perpaduan ini menjadi simbol akulturasi budaya dan pluralisme yang telah tumbuh sejak ratusan tahun lalu,” katanya lagi.
Masjid ini juga memiliki sembilan pintu yang masing-masing melambangkan Wali Songo. Ukurannya sengaja lebih kecil dari pintu pada umumnya, dengan lebar sekitar 40 sentimeter dan tinggi 160 sentimeter.
Setiap jemaah yang masuk menundukkan kepala sebagai simbol penghormatan dan kerendahan hati di hadapan Allah Swt, sekaligus menegaskan semua manusia setara di mata Sang Pencipta.
Meski telah berdiri lebih dari lima abad, sebagian besar bangunan masih terjaga keasliannya. Perawatan rutin dilakukan agar warisan sejarah ini tetap lestari.
Memasuki Ramadan, aktivitas keagamaan di masjid ini meningkat. Jemaah memadati masjid untuk beribadah, dan terdapat tradisi khusus, yakni menabuh beduk pada pukul 23.00 WIB sebagai tanda menghidupkan malam Ramadan.
Kini, Masjid Agung Sang Cipta Rasa bukan hanya menjadi pusat kegiatan keagamaan, tetapi juga berperan menggerakkan perekonomian masyarakat sekitar Keraton Kasepuhan, menjadikannya simbol spiritual sekaligus budaya yang hidup. (Agus)











































































































Discussion about this post