Dia menegaskan, dalam suasana pandemi Covid-19 ini, bekerja di rumah sudah menjadi imbauan pemerintah. Akan tetapi, kondisi itu tidak berlaku bagi kaum pengrajin pergentengan, atau jebor (pabrik genteng), karena dirinya menggap rumah kedua.
“Seharusnya Jatiwangi Cup 2020 ini berlangsung di PG Super Bambang, Baturuyuk. Tapi karena pandemi, menuntutnya untuk menyesuaikan diri menerapkan protokol kesehatan dan digelar di Jebor Hall, Jatiwangi art Factory,” tukasnya.
Terkait teknisnya, lanjut dia, keseluruhan peserta didatangi ke-pabriknya masing-masing untuk kemudian difoto, dan hasilnya diunggah untuk penilaian. Kemudian, dua puluh peserta yang lolos seleksi akan memeragakan tubuhnya, bak peragawan di sebuah catwalk lengkap dengan segala gemerlap lampu dan musiknya.
Adapun penontonya, sambung dia, yang dipersilakan itu hanya anggota keluarga peserta. Hal itu dilakukan, karena harus menjaga jarak. Tentunya dengan duduk dalam cluster-cluster yang berjarak dengan protokol kebersihan yang ketat, termasuk tahap penjurian dibagi dua.
“Nanti tiga orang juri akan melakukan penilaian daring sementara dua lainnya akan duduk di hadapan panggung,” tukasnya. (Ibin)












































































































Discussion about this post