Saat ditanya mengenai solusinya, Gusmul menekankan akan mengatasi potensi defisit itu dengan menggenjot lagi pendapatan daerah. Walaupun diakuinya, perekonomian saat ini masih belum pulih, atau dalam tahapan pemulihan akibat pandemi Covid-19.
“Bila masih kurang menutup defisit, opsi paling akhir atau pamungkas adalah mengurangi belanja tidak langsung, seperti TPP. Memang tidak begitu signifikan nilainya, tapi minimal bisa memperkecil deficit,” jelasnya.
Pengurangan TPP itu, lanjutnya, secara bertahap. Anggaran untuk TPP dalam sebulan sekitar Rp16 miliar, bila dipotong 20 persen, didapatkan sekitar Rp3 miliar per bulan. Jadi kalau 5 bulan bisa efesiensi sekitar Rp15 miliar.
“Saya berharap pada belanja langsung saja yang bisa dipangkas,” ucap mantan Kepala BKD ini.
Namun, kata dia, pihaknya siap merealisasikan pengurangan belanja langsung yang belum terealisasi. Tapi langkah ini harus dilakukan secara hati-hati. Pasalnya, sejumlah kegiatan atau program ada yang berkaitan dengan mendukung visi misi kepala daerah.















































































































Discussion about this post