MAJALENGKA, (FC).- Paguyuban Kelompok Tani Hutan (KTH) Silihwangi Majakuning kembali menunjukkan komitmen menjaga kelestarian hutan dengan menanam 1.000 pohon di lereng curam Blok Wadasari, Desa Bantaragung, Kecamatan Sindangwangi, Kabupaten Majalengka, belum lama ini.
Penanaman dilakukan di tebing dengan kemiringan sekitar 70 derajat sepanjang kurang lebih 300 meter, yang merupakan akses utama menuju Bumi Perkemahan Awi Lega.
Kawasan Blok Wadasari berada di zona tradisional Taman Nasional Gunung Ciremai dan dikenal sebagai eks lokasi kebakaran hutan yang terjadi berulang pada 2019-2021. Sejak peristiwa tersebut, area ini menjadi lokasi pemulihan ekosistem berkelanjutan melalui penanaman dan perawatan vegetasi.
Kegiatan kali ini dipusatkan oleh KTH Wanakarya Desa Bantaragung sebagai tuan rumah, dengan dukungan anggota KTH lain dari Majalengka dan Kabupaten Kuningan. Lebih dari 50 orang terlibat dalam penanaman yang menggunakan bibit pohon endemik seperti huru, peutag, picung, serta jenis lokal lain yang berakar kuat untuk menahan erosi di lereng terbuka.
Ketua Paguyuban KTH Silihwangi Majakuning, Nandar, mengatakan tantangan utama pemulihan kawasan bekas kebakaran adalah pemeliharaan tanaman.
“Ini area bekas kebakaran hutan. Upaya pemulihan sudah berjalan, tapi tantangan terbesarnya ada pada pemeliharaan. Dengan keterlibatan KTH, kami optimistis suksesi vegetasi bisa terjaga,” ujarnya.
Menurut Nandar, lahan terbuka di lereng curam berisiko mengalami erosi permukaan dan kehilangan lapisan tanah atas (topsoil), serta meningkatkan potensi kebakaran berulang jika tidak segera ditangani.
Sepanjang 2025, paguyuban tercatat telah belasan kali melakukan penanaman di kawasan Ciremai bersama KTH Desa Penyangga yang memiliki relasi historis panjang dengan hutan sejak masa pengelolaan Perhutani.
Ketua KTH Wanakarya Desa Bantaragung, Rakim menambahkan, bahwa penanaman di Blok Wadasari tidak berhenti pada penempatan bibit.
“Kalau lahan ini dibiarkan terbuka, risikonya erosi besar. Apalagi jalurnya ramai pengunjung. Karena itu harus ditanami supaya lereng lebih stabil,” katanya.
Ia menjelaskan, pemeliharaan dilakukan setiap tiga bulan selama dua tahun, termasuk penyulaman tanaman mati dengan bibit baru.
Selain rehabilitasi, KTH juga menjalankan fungsi pengawasan kawasan melalui patroli rutin, pembangunan sekat bakar, dan respons cepat saat muncul titik api. Peran ini dikenal sebagai community-based fire management, yakni pengelolaan kebakaran berbasis masyarakat sekitar hutan.
Penanaman di lereng curam Desa Bantaragung menjadi bagian dari praktik konservasi berbasis komunitas yang terus berjalan di tengah meningkatnya aktivitas wisata alam, ancaman kebakaran, dan kebutuhan menjaga keseimbangan ekosistem pegunungan Ciremai. (rls)











































































































Discussion about this post