BANDUNG, (FC). – Badan Pengelola Tabungan Perumahan (BP Tapera) mencatat Jawa Barat menjadi provinsi dengan realisasi tertinggi penyaluran Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) tahun 2025.
Hingga 16 September 2025, penyerapan FLPP di Jawa Barat mencapai 40.290 unit, atau setara 22,95 persen dari total nasional.
Komisioner BP Tapera, Heru Pudyo Nugroho, menyebut realisasi FLPP nasional sudah mencapai 175.549 unit dari target 350.000 unit.
‘Jawa Barat tercatat sebagai provinsi dengan realisasi tertinggi secara nasional,” ungkap Heru dalam acara Penguatan Ekosistem Perumahan dan Sosialisasi Kredit Program Perumahan di Bandung, Kamis (18/9).
Berdasarkan wilayah, Tiga kabupaten tercatat sebagai penyerap terbesar FLPP di Jawa Barat, yakni Kabupaten Bekasi (9.083 unit), Kabupaten Bogor (6.744 unit), dan Kabupaten Karawang (4.566 unit)
Disusul Kabupaten Cirebon menempati posisi keempat dengan realisasi 3.398 unit.
Sementara, Kota Cirebon menjadi daerah dengan realisasi penyerapan FLPP terendah, yakni hanya 77 unit.
“Tingkat permintaan terendah ada Kota Banjar, Kota Cirebon dan Pangandaran. Ini tiga kabupaten kota yang perlu teman-teman pengembang di sana bisa untuk meningkatkan potensi marketnya, potensi demannya dengan membangun dan memasarkan lebih giat lagi,” ungkap Heru
Heru menilai potensi permintaan di Jawa Barat sebenarnya sangat besar, mencapai 89.131 unit.
Karena itu, ia mendorong pengembang lebih agresif memanfaatkan fasilitas KUR Perumahan serta memperluas pemasaran.
Menurut Heru, hambatan utama penyaluran FLPP ada pada kemampuan finansial calon debitur.
“Kita sudah sering diskusi dengan Mas Joko Ketua REI bahwa tantangan utama saat ini adalah terkait dengan banktibility debitur.
Kemampuan ngangsurnya tidak memadai,” kata Heru, dikutip dari chanel Youtube Humas Jabar pada Senin (22/9).
Banyak Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) terhalang status kredit akibat pinjaman konsumtif seperti paylater maupun pinjol.
“Biasanya kalau nyantol ada saldo debet terkait pinjaman online atau belanja online yang nilainya kadang tidak signifikan, cuma 500 ribu, 400 ribu, tapi biasanya langsung ketolak oleh bank.Nah ini yang menjadi tantangan bagi masyarakat berpenghasilan rendah,” ungkapnya.
Untuk mengoptimalkan penyaluran, BP Tapera menambah bank penyalur KPR pada 2025, yaitu Bank Nobu, BCA, dan Bank Artha Graha.
Selain itu, BP Tapera berkolaborasi dengan OJK menganalisis 111.258 debitur di aplikasi Sikasep yang di atas 6 bulan belum diproses bank agar segera ditindaklanjuti.
“Kita bekerjasama dengan OJK untuk dilakukan analisis dan di follow-up dengan masing-masing bank penyalur,” ungkapnya,
Hingga saat ini, Bank BTN masih menjadi penyalur terbesar KPR FLPP dengan 88.330 unit, disusul BTN Syariah (35.916 unit) dan BRI (17.033 unit).
Dari sisi pengembang, REI mencatat realisasi tertinggi (73.171 unit), diikuti APERSI (53.081 unit) HIMPERRA (23.857 unit), ASPRUMNAS (5.784 unit), dan APERNAS (5.649 unit).
BP Tapera mendorong upaya maksimal dari semua pihak dalam rangka pencapaian target penyaluran pembiayaan FLPP, khususnya di Jawa Barat, sehingga mencapai paling sedikit 30 persen dari target nasional pada tahun 2025. (Andriyana)
















































































































Discussion about this post