KOTA CIREBON, (FC).- Dalam peta sebaran Covid-19 di Jawa Barat, Kota Cirebon termasuk dari 5 daerah yang level resiko tinggi atau zona merah. Artinya zona merah ini, kasus baru yang ditemukan sangat banyak.
Dalam segi penularan atau transmisinya dipastikan meluas dengan sangat cepat dibandingkan pada zona-zona lainnya.
“Di zona merah, transmisinya sangat mengancam bisa lebih meluas dan sangat cepat. Skor yang didapatkan antara 0 sampai 1,8,” jelas Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Kota Cirebon Edy Sugiarto kepada FC, Senin (28/9).
Menurutnya, memang sejak dua pekan lalu Kota Cirebon sudah masuk zona merah hingga saat ini. Pada masa AKB ini akses mobilitas dan aktivitas masyarakat dibuka. Sehingga jutaan orang masuk ke Kota Cirebon dari berbagai daerah, sangat sulit untuk mengendalikan penyebaran Covid-19.
Sedikit ironi, Edy mengibaratkan tenaga medis sekarang tinggal menetapkan siapa yang terkonfirmasi positif Covid-19. Karena potensi penularannya sangat tinggi sekali, diperburuk dengan kedisiplinan mematuhi protokol kesehatan masih sangat minim.
Namun, Edy meyakinkan semua pihak, tenaga medis tetap melakukan testing secara masif, tracing untuk melacak orang yang terindikasi positif, treatment dan isolating untuk pasien positif Covid-19.
“Kita buka saja, ruang isolasi dan tempat tidurnya sudah mulai menipis. Di Gedung Balai Diklat BKKBN ada 40 tempat tidur dan tersisa hanya dua saja. Untuk yang di rumah sakit menyentuh angka 80 persen, tersisa 20 persen tempat tidur. Ada juga OTG yang tidak dirawat di RS, mereka melakukan isolasi mandiri,” cetusnya.
Sebagai salah satu garda terdepan penanganan Covid-19, tenaga medis sudah berjibaku sejak setangah tahun belakangan ini. Jelas, tegas Edy, ini mempengaruhi kondisi fisik dan psikologisnya.
“Tenaga medis kita sudah banyak yang gugur karena ikut terpapar Covid-19. Mereka yang bertahan kelihatan sudah letih secara fisik, pikiran dan mental. Karena terus berhadapan dengan virus yang belum ada vaksin dan obatnya. Bila ingin membantu mereka, masyarakat wajib mematuhi protokol kesehatan, itu saja,” ucapnya dengan nada tinggi.
Untuk itu pihaknya sudah melakukan beberapa upaya, diantaranya dengan berencana menyewa tiga hotel, sebagai tempat isolasi pasien positif Covid-19. Saat ini pilihan hotel sudah dikantonginya dan sudah dalam tahap negosiasi. Diperkirakan, ada 200 kamar sebagai tambahan ruang isolasi.
Penyegaran dan penambahan tenaga medis pun sudah direncanakannya. Rinciannya, dua dokter yang sudah diseleksi, 18 orang paramedis dan 2 orang tenaga umum untuk ditempatkan pada tiap hotel yang disewa.
Tujuan rekrutmen ini, karena dokter yang ada di Puskesmas sudah sibuk ditempatnya dan mereka sudah terlalu lelah. Terlebih dalam sehari bisa ratusan pasien yang dilayani.
“Rencananya, tenaga medis hasil rekrutmen 1 Oktober mendatang mulai bekerja. Kita tidak ingin banyak teori, yang penting action di lapangan,” tegasnya. (Gus)
















































































































Discussion about this post