GEBANG, (FC).- Ratusan hektare lahan pertanian di Desa Melaksari Kecamatan Gebang Kabupaten Cirebon terancam tak bisa berfungsi sebagai ketahanan pangan desanya, lantaran ancaman air asin dari rob air laut tidak bisa dicegah.
Kepala desa setempat berharap ada penanganan serius dari pemerintah untuk membangun klep atau bendungan karet agar bencana tersebut bisa dicegah.
Kepala Desa (Kuwu) Melaksari, Sochibi menjelaskan, secara geografis wilayah Desa Melaksari berada di wilayah pesisir dan berdekatan dengan pantai laut Jawa, sehingga lahan pertanian yang ada juga tidak jauh dari ancaman air asin, apalagi desa Melaksari memiliki 3 sungai yang langsung terhubung ke laut.
Saat ini kondisi laut dan daratan pantai sudah hampir rata, sehingga ketika terjadi gelombang air laut atau rob maka air laut meluap ke daratan dan juga masuk melalui tiga sungai yang ada, air laut yang masuk melalui sungai bisa mencapai sekitar 1 kilometer atau tepat berada di wilayah lahan pertanian dan perumahan masyarakat.
“Masuknya air asin ke areal lahan pertanian sudah pasti menjadi ancaman bagi para petani, sedikitnya ada sekitar 100 hektare lahan pertanian yang sudah terancam, dan akan terus bertambah,” ungkapnya, Kamis (21/8).
Untuk tidak memperparah, diharapkan bisa menyelamatkan lahan pertanian yang sudah terdampak, maka perlu ada penanganan serius dari pemerintah, dalam hal ini Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Cimanuk – Cisanggarung (Cimancis) untuk membangun klep atau bendungan karet atau sejenisnya, yang berfungsi untuk menahan air laut masuk ke sungai ketika terjadi rob atau gelombang pasang dari laut, agar sungai tetap tawar sehingga bisa difungsikan untuk pengairan sawah.
“Andalan pengairan pertanian di Desa Melakasari hanya mengandalkan sungai dan irigasi yang ada, bahkan bukan untuk Desa Melakasari saja, tapi desa tetangga juga mengandalkan pengairan dari sini,” ungkapnya.
Ditambahkan Kuwu Sochibi, upaya Pemdes Melakasari sudah dilakukan dengan bersurat ke BBWS Cimancis untuk mengatasi masalah sungai di desanya yang kini sudah asin dan berisiko matinya pertanian di desanya.
Dari hasil ajuan yang dilayangkan, sudah mendapat tanggapan dari Kepala BBWS Cimancis Dwi Agus Kuncoro dan juga telah melihat langsung kondisi sungai-sungai tersebut.
Dari hasil survei dan peng-anggaran pusat rencananya baru akan dilakukan pada tahun 2026, dan baru bisa menangani untuk membangun klep atau bendungan karet atau pintu air di dua sungai yakni sungai Pejodangan dan Sungai Kaligandu.
“Semoga kekhawatiran para petani di Desa Melaksari yang akan alih fungsi lahan tidak terjadi setelah nanti dari BBWS Cimancis membangun bendungan di sungai tersebut,” harap Sochibi. (Nawawi)












































































































Discussion about this post