KAB. CIREBON, (FC).- Para petani di Kabupaten Cirebon saat ini sedang dirundung kesedihan. Meski saat ini sudah memasuki masa panen, namun tetap saja tidak membuat petani menjadikan mereka bahagia, justru malah sebaliknya.
Hal tersebut dikarenakan, pendapatan panen tidak sebanding dengan biaya produksi yang telah dikeluarkan saat masa tanam.
Bukan karena hasil panen yang tidak sesuai, melainkan harga gabah dari petani yang harganya tidak sesuai.
Harga gabah basah dari petani, saat ini dihargai sebesar Rp350 ribu per kwintalnya. Sedangkan, pupuk yang mereka beli sebesar Rp600 ribu per kwintalnya.
Hal inilah yang membuat para petani merugi, karena hasil panen yang mereka dapat, tidak bisa menutupi biaya produksi yang mereka keluarkan.
Anjloknya harga gabah saat ini, imbas dari pemerintah Republik Indonesia yang berencana akan melakukan impor beras sebanyak 1 juta ton.
Menanggapi hal tersebut, Bupati Cirebon H Imron Rosyadi secara tegas menolak kebijakan tersebut, karena akan berdampak langsung terhadap petani lokal.
“Dengan adanya rencana impor beras, jelas saya sangat tidak setuju meskipun Indonesia sebagai negara terbuka,” kata Imron kepada FC, Selasa (23/3).
Masih kata dia, dirinya lebih menyetujui adanya kegiatan impor beras, bilamana ketersediaan beras nasional benar-benar kosong yang diakibatkan oleh sejumlah factor, diantaranya gagal panen.
“Kalau impor itu melihat ketersediaan beras kita sudah menipis, nah tidak apa-apa impor,” ungkap Imron.
Dengan adanya rencana impor beras ini, dirinya menjelaskan jika kebijakan itu akan banyak merugikan petani. Terlebih lagi Kabupaten Cirebon sejauh ini terkenal sebagai lumbung beras di kawasan Provinsi Jawa Barat.
“Kalau memang disini tidak ada, baru silahkan untuk impor, tapi kalau disini banyak kenapa harus impor ini tentu akan berdampak pada petani,” ujar Imron.
Dirinya berharap kepada pemerintah pusat untuk tidak melanjutkan rencana impor beras. Pasalnya ketersediaan beras di daerah diyakininya masih mencukupi bagi kebutuhan pangan masyarakat.
“Wong kita lagi panen akeh jeh (orang kita lagi panen banyak kok,-red), kasihan lah petani kalau harus impor,” (Muslimin)















































































































Discussion about this post