KAB.CIREBON, (FC).- Sepanjang ruas Jalan Pangeran Antasari, Kecamatan Plumbon, Kabupaten Cirebon dipenuhi bangunan warung semi permanen yang berdiri rapat di tepi sungai.
Bangunan-bangunan itu diduga kuat menjadi penyebab utama banjir yang berulang kali melumpuhkan jalur penghubung antarwilayah tersebut.
Sepadan sungai yang seharusnya menjadi ruang bebas aliran air, justru berubah fungsi menjadi area usaha.
Samsuri (45), warga Kecamatan Plumbon yang hampir setiap hari melintasi Jalan Pangeran Antasari, mengaku kondisi tersebut sudah lama menjadi keluhan masyarakat.
Menurutnya, keberadaan warung semi permanen yang berdiri tepat di pinggir sungai menyebabkan penyempitan badan sungai sehingga tidak mampu menampung debit air saat hujan deras.
“Warung semi permanen itu posisinya pas di pinggir sungai. Begitu hujan deras, air enggak tertampung dan langsung meluap ke jalan. Akhirnya jalan tergenang air,” kata Samsuri, Senin (2/2).
Luapan air tidak hanya merendam badan jalan, tetapi juga berdampak pada fasilitas di sekitarnya. Gedung Balai Latihan Kerja (BLK) milik Dinas Ketenagakerjaan Kabupaten Cirebon serta area persawahan warga turut terdampak banjir setiap kali debit air sungai meningkat.
“Rutin jadi langganan banjir BLK sama sawah. Sungainya sudah terlalu sempit karena bangunan warung semi permanen itu,” tambahnya.
Selain banjir, keberadaan warung semi permanen tersebut juga memicu persoalan kemacetan lalu lintas. Aktivitas parkir kendaraan di bahu jalan membuat ruas Jalan Pangeran Antasari semakin menyempit, terlebih saat kondisi jalan tergenang.
Warga setempat, Sefuddin (53), menambahkan kemacetan kerap tak terhindarkan ketika banjir datang bersamaan dengan padatnya arus kendaraan.
“Motor dan mobil sering parkir sembarangan karena ada warung semi permanen itu. Kalau sudah banjir, ya macetnya parah,” ujarnya.
Kondisi tersebut semakin diperparah karena lokasi warung semi permanen itu berada tepat di kawasan persimpangan. Arus kendaraan dari berbagai arah bertemu di satu titik sempit yang sebagian jalannya tergenang air.
“Ini perempatan jalan. Banjir sedikit saja, antrean kendaraannya bisa panjang ke mana-mana,” katanya.
Pantauan di lapangan menunjukkan, sejumlah fondasi bangunan semi permanen tersebut bahkan tampak menjorok ke badan aliran sungai. Saat debit air meningkat, fondasi bangunan menjadi penghambat aliran air yang menyebabkan arus melambat dan akhirnya meluap ke permukaan jalan.
Hingga berita ini diturunkan, Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten Cirebon belum memberikan keterangan resmi terkait langkah penertiban bangunan yang memanfaatkan sepadan sungai tersebut, meski keluhan warga terus bermunculan setiap musim hujan. (Ghofar)











































































































Discussion about this post